Kecamatan Kupang Tengah Deklarasikan Penghentian Perkawinan Anak

Perwakilan multipihak di Kecamatan Kupang Tengah mendeklarasikan penghentian perkawinan anak

Kecamatan Kupang Tengah Deklarasikan Penghentian Perkawinan Anak
POS-KUPANG.COM/Edi Hayong
Camat Kupang Tengah, Ridolf Tlaan ketika membacakan deklarasi Penghentian Perkawinan Anak di HUT Kemerdekaan RI ke 74 tingkat kecamatan, Sabtu (17/8/2019) 

POS-KUPANG.COM | OELAMASI - Perwakilan multipihak, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pemangku adat, sekolah perempuan dari Mata Air, Noelbaki, Kelurahan Tarus dan Kelurahan Oesapa bersama-sama mendeklarasikan penghentian perkawinan anak.

Deklarasi yang berisi tiga poin ini dibacakan Camat Kupang Tengah, Ridolf Talaan, pada upacara HUT Kemerdekaan RI ke 74 tingkat Kecamatan Kupang Tengah, Sabtu (17/8/2019).

Camat Ridolf didampingi Kepala Desa Mata Air, Benyamin Kanuk, Kades Noelbaki dan juga anggota DPRD Kabupaten Kupang Dapil I menegaskan, pada momen bersejarah ini para elemen terkait berkomitmen menghentikan perkawinan anak.

Rayakan HUT Kemerdekaan RI Bersama Kader PDIP, Ahok BTP Ingatkan Pejabat Jadi Contoh Tak Korupsi

Camat Ridolf menyebutkan, ada tiga poin penting dalam deklarasi ini yakni, menghentikan perkawinan usia anak terutama untuk anak-anak perempuan, karena perkawinan anak berpengaruh pada kesehatan perempuan dan menyumbang pada tingginya angka kematian ibu dan balita.

Selain itu, mendorong dan memastikan masyarakat dan semua keluarga lebih mengutamakan pendidikan anak-anak, baik anak laki-laki maupun perempuan minimal 12 tahun. Sehingga dapat menekan angka putus sekolah dan memberikan kesempatan anak-anak untuk berkembang, maju dan mendapatkan penghidupan yang layak.

Kabar Gembira bagi Masyarakat Indonesia Presiden Jokowi Perluas Beasiswa PIP hingga Mahasiswa

Camat Ridolf juga memastikan bahwa perdes-perdes tentang penghentian perkawinan anak yang sudah disahkan di desa-desa dilaksanakan dan ditaati semua sebagai bentuk perlindungan kepada anak.

Camat Ridolf pada saat inipun menghimbau semua elemen untuk tidak menyepelekan persoalan stunting. Pasalnya, Kupang Tengah termasuk daerah yang paling tinggi angka stunting. Selain itu dirinya juga menghimbau soal kebersihan. Semua pihak agar tidak membuang sampah sembarangan dan harus ditempatkan sesuai dengan aturan.

Untuk diketahui beberapa waktu lalu, kaum perempuan yang merupakan gabungan dari beberapa lembaga pada pelaksanaan Hari Perempuan Internasional (HPI) tahun 2019 menyerukan stop perkawinan anak.

Gerakan mereka ditunjukan dengan jalan santai bersama sambil mengkampanyekan untuk menggalang dukungan publik menyuarakan isu-isu perempuan. Kegiatan ini difasilitasi Pondok Pendidikan Kesetaraan, Keadilan Gender dan Perdamaian (PERGERAKAN) Kupang-NTT.

Ketua Pelaksana kegiatan perayaan HPI, Yerni Selly Bolu yang juga pendamping Sekolah Perempuan dari Pondok PERGERAKAN Kupang mengatakan, terkait perayaan HPI tahun 2019, pihaknya memfasilitasi beberapa kegiatan yang salah satunya gerak jalan bersama. Pelaksanaan kegiatan melibatkan peserta dari Sekolah Perempuan di Desa Noelbaki, Mata Air dan kelurahan Tarus, Sekolah Perempuan dari keluraha Lasiana dan Kelurahan Oesapa.

Pada momen inipun, pihaknya melakukan kampanye isu-isu Perempuan yaitu Sunting, KDRT, Pencegahan perkawinan Anak, Traficking dll.

"Kita jalin kerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Kupang Tengah, Puskesmas Tarus, Pemerintah Desa Noelbaki dan Mata Air juga Kelurahan Tarus termasuk Polsek Kupang Tengah. Kita libatkan juga semua unsur masyarakat, kader posyandu dan PKK juga Forum Disabilitas dan kelompok lainnya," kata Yerni.

Dalam mensukseskan kegiatan ini, kata Yerni, pihaknya bekerja sama dengan KAPAL atau Institut Lingkaran Pendidikan Alternatif bagi Perempuan Jakarta juga didukung MAMPU. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Edi Hayong)

Penulis: Edy Hayong
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved