Faperta Ditantang Sejahterakan Petani Lahan Kering

Faperta di seluruh Indonesia dan Undana Kupang ditantang sejahterakan petani Lahan kering

Faperta Ditantang Sejahterakan Petani Lahan Kering
ISTIMEWA
Wagub NTT, Drs. Josef Nae Soe foto bersama dengan Jajaran Pimpinan Undana dan para Dekan Faperta se-Indonesia usai membuka seminar nasional dan lokakarya di Swiss Bellin Hotel, Rabu (7/8/2019). 

Menurutnya, kopi sangat diminati sejumlah perusahaan asal luar negeri. Meski demikian, kata dia, dengan adanya komoditas yang unggul, orientasi bisnis para petani masih lemah.

Karena itu, ia meminta para akademisi atau mahasiswa dari ilmu sosial maupun ekonomi agar mengkaji pertanian di NTT. "Kita memiliki lahan dengan jumlah tonase yang tinggi tapi pemerataannya ada tidak. Petani memiliki uang yang cukup atau tidak?" ungkap Toni.

Soal tengkulak, kata dia, di Sumba petani bukan lagi menjadi petani di rumahnya sendiri. "Hasil pertnian dibeli tengkulak atau perantara dan menikmai hasil yang lebih tinggi. Ada yang mengerjakan lahan pertanian tetapi pupuk dan semuanya disediakan tengkulak sehinga, ketika panen, maka hasilnya di bagi kepada tengkulak," terangnya.

Ia menambahkan, jika hal itu dibiarkan, maka petani NTT tidak akan merasa sejahtera. "Adakah petani kita yang kaya karena pertanian, ada berapa persen? Yang kaya bukan petani tetapi pedagang hasil pertanian (tengkulak), bahkan ternak pun demikian," tegasnya.

Ia menjelaskan, dari segi ekonomi pertanian NTT, PDRB NTT memang meningkat, tetapi kontribusi sektor pertanian terus menurun sejak 1973.

"Tahun 2017 terdapat 28 persen, sampai semester satu 2018 1,96 persen. Semester dua, 21 persen," ungkapnya. Ia mengaku, pertanian makin tidak menarik, sehingga anak muda tidak bekerja menjadi petani. Ia memprediksi, 15 tahun lagi petani kita tidak ada. "Apa yang harus kita buat?" ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi saat membuka kegiatan tersebut mengatakan, melihat kehidupan masyarakat NTT, khsusunya di bidang pertanian, maka ada tiga dimensi yang perlu dikaji.

Antara lain, pertama, dimensi ideal. Menurutnya, dimensi ideal berarti kalau ada lahan dan tanaman pasti ada tumbuhan.

Kedua, dimensi realitas atau realita yaitu masalah yang dihadapi bertolak belakang dengan dimensi ideal. Dan yang ketiga adalah dimensi fleksibilitas, yaitu perpaduan antara dimensi ideal dan realitas.

Ia menyatakan, visi NTT kedepan adalah NTT bangkit menuju kesejahteraan. "Saya dan Pak Viktor ingin masyarakat NTT bisa bangkit dan berubah. Ada istilah lahan tidur, tapi sebenarnya bukan lahannya yang tidur, tetapi manusia NTT yang tidur dan tidak mengelola lahan dan mendapatkan hasil," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved