Nusantara School of Difference 2019: Belajar Memahami Minoritas dan Mayoritas Komunitas di Indonesia

Peserta Nusantara School of Difference 2019: Belajar memahami Minoritas dan mayoritas komunitas di Indonesia

Nusantara School of Difference 2019: Belajar Memahami Minoritas dan Mayoritas Komunitas di Indonesia
POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Peserta foto bersama saat penutupan kegiatan di kantor IRSGC Kelurahan Fatululi Kecamatan Oebobo Kota Kupang pada Sabtu (10/8/2019). 

Peserta Nusantara School of Difference 2019: Belajar memahami Minoritas dan mayoritas komunitas di Indonesia

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Selama dua minggu penuh 27 orang peserta Nusantara School of Difference yang berasal dari lima negara dan 8 provinsi bersama-sama belajar tentang Understanding Minority-Majority Relations: Lessons from the Indonesian Archipelago.

Kegiatan ini merupakan kerjasama yang dilakukan oleh IRGSC (Institute of Resource Governance and Social Change) dan CEDAR (Communities Engage with Difference and Religions). IRGSC adalah lembaga riset aksi yang berbasis di Kupang, NTT dan CEDAR merupakan lembaga yang berbasis di Boston, Amerika Serikat. Nusantara School of Difference merupakan insiatif IRGSC dan CEDAR yang didukung oleh MUI Provinsi NTT, Sinode GMIT, dan Keuskupan Agung Kupang.

Wartawan Sehati Sesuara Kupang Rayakan Kemerdekaan bersama Komunitas Pemulung

Para peserta berasal dari empat negara Amerika Serikat, Vietnam, Moldova, Kyrgyzstan, Indonesia. Sedangkan di Indonesia para peserta berasal dari 8 provinsi masing-masing Aceh, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Dari NTT diwakili oleh empat orang masing-masing Pdt.Irwan Makoneng dan Pdt.Merry Kosapilawan dari GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor), Romo Januario Gonzaga dari Keuskupan Agung Kupang, Siti Hajar (dosen Univ.Muhammadiyah Kupang), dan Yohanes Victor Lasi Usbobo.

Dalam workshop panjang yang dilakukan di tiga provinsi yakin DKI Jakarta, Jawa Barat dan NTT, para peserta diajak untuk melihat, mengalami, merasakan, dan menganalisa tentang dampak kategori minoritas/mayoritas dalam hidup sehari-hari dalam berbagai komunitas.

Jawa Barat

Di Jawa Barat para peserta diajak belajar bersama warga yang terkena penggusuran di Taman Sari, para pegiat pemberdaya ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) di Rumah Cemara, komunitas Syiah, warga Jamaah Ahmadiyah, Komunitas Sunda Wiwitan, Gereja Kristen Pasundan, dan Komunitas Katholik Cigugur.

Dugaan Korupsi Embung Mnele Lete, Ini Alasan Jefry Un Banunaek Mangkir dari Panggilan Jaksa

Di Bandung, para peserta Nusantara School of Difference yang kedua yang berasal dari berbagai negara, juga berupaya menginterpretasikan ulang tentang Kongres Asia Afrika dalam konteks kontemporer. Salah satu pembicara, Hendro Sangkoyo mengungkapkan dalam era terkini kekuatan finansial berbagai lembagai internasional semakin membuat janji-janji kemerdekaan maupun impian negara-negara Asia Afrika di awal kemerdekaan terasa semakin kosong.

Selain itu, Eva salah seorang warga Taman Sari Bandung yang juga dikunjungi oleh rombongan belajar ini mengungkapkan bahwa ia berharap lewat kunjungan ini pemerintah kota Bandung mau memberikan informasi yang lebih terbuka tentang rencana pengembangan ruang. Menurutnya pengembangan kota perlu memperhatikan keberaan warga yang sudah berpuluh tahun di sini.

Kunjungan ke Rumah Cemara memberikan perspektif baru dalam penanganan kasus HIV/AIDS yang prevalensinya semakin meningkat di Bandung. Didirikan oleh lima (mantan) konsumen NAPZA ilegal pada 2003. Organisasi komunitas ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV-AIDS, konsumen narkoba, serta kaum marginal lainnya di Indonesia melalui pendekatan dukungan sebaya.

Halaman
123
Penulis: Ryan Nong
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved