Safari Wukuf Puncak Ibadah Haji

Konsep siklus hidup dalam Islam menghendaki kehidupan hari ini harus lebih baik dibanding dengan kemarin dan kehidupan esok harus lebih baik dari

Safari Wukuf Puncak Ibadah Haji
istimewa
Harun Al Rasid Sulaiman 

Oleh: Harun Al Rasid Sulaiman

Konsep siklus hidup dalam Islam menghendaki kehidupan hari ini harus lebih baik dibanding dengan
kemarin dan kehidupan esok harus lebih baik dari hari ini. Apa yang terjadi di masa lalu hendaknya
menjadi pelajaran untuk menghadapi hari esok. Allah berfirman:

Artinya: Hai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan
apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Hari ini kita berada pada puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Padang Arafah, rukun haji yang tidak
bisa ditinggalkan . Keniscayaan yang tidak dapat ditawar sehingga mereka yang
sakitpun di bawah ke arafah untuk melaksanakan safari wukuf. Dan iapa yang melewatkan wukuf di
Arafah maka tidak sah ibadah hajinya.

Jika kewajiban sudah diabaikan, jika larangan sudah diterjang tanpa merasa bersalah dan jika anjuran
untuk berbuat baik tak didengar lagi, maka keseimbangan tatanan masyarakat akan terganggu dan kita
berada dalam goncangan yang merugikan masyarakat secara luas.

Di padang Arafah ini kita bersimpuh dengan pakaian ihram, selembar kain tak berjahit yang dililitkan
ke tubuh kita, laksana mayat yang akan menghadap sang Khalik, tak membawa atribut, pangkat, dan
kedudukan serta status sosial. Prinsip persamaan derajat dan kedudukan inilah yang
tercermin dalam ibadah haji.Kita diajarkan untuk tidak mementingkan ego masing-masing dan sebaliknya
peduli kepada urusan banyak orang. Kita bisa berbagi dengan sesama. Menolong mereka yang lemah,
menunjukan jalan bagi mereka yang tersesat, berbagi kesempatan di tengah segala sesuatu yang serba
sempit dan terbatas. Kita dibiasakan untuk menahan diri dari dorongan syahwatiyah dalam rangka makin
mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya.

Pada akhirnya, kita semuanya hanya membawa selembar kain kafan untuk menghadap Ilahi dan pada saat
ini kita diajarkan tentang kesadaran terhadap hal ini.Terhadap kematian yang sering kita takutkan
atau kita lupakan atau pura-pura lupa dan tidak mau mengingatnya. Kita dibiasakan untuk meningkatkan
ketundukan pada kehendak Allah, menekan ego masing-masing dan membiasakan diri untuk hidup apa
adanya, bukan hidup apa-apa ada dari sumber yang tidak jelas asal-usulnya.

Kita diminta sebanyak-banyaknya berzikir mengingat Allah agar hati menjadi tenang, damai, khusyu?,
dan itulah sesungguhnya puncak kebahagiaan sejati manusia tatkala diri ini merasa begitu dekat
kepada Allah, selalu mengingat-Nya dalam setiap situasi dan akhirnya mampu berakhlak dengan akhlak
Allah yang terrefleksikan dalam perilaku sehari-hari yang santun, taat
pada aturan dan berakhlak mulia dengan sesamanya. Ketenangan jiwa tersebut sesungguhnyadapat dicapai
melalui zikir sebagaimana firman-Nya:

Artinya: orang-orang yang beriman dan hari mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.

Berzikir untuk menyadari betapa kita ini kecil dan bukan apa-apa di depan kemahakuasaan Allah Rabbul
Izati. Menegaskan kembali akan keagungan-Nya seraya menyambut panggilannya untuk berhaji Labbai
Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wanni?mata laka wal mulk laa
syarika lak.Kita datang dari tempat yang jauh dari segenap penjuru, ribuan kilometer kita tempuh
dengan segala suka dan duka dan antrian panjang kita tunggui dengan penuh kesabaran. Kini saatnya

Halaman
123
Editor: Ferry Ndoen
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved