Ketua P2TP2A : Nagekeo Belum Miliki "Rumah Aman"

sampai keadaan Bulan Juni, telah terjadi 27 kasus kekerasan terhadap anak, yang didominasi kasus kekerasan seksual.

Ketua P2TP2A : Nagekeo Belum Miliki
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Ketua Tim P2TP2A Nagekeo, Yuliana Lamury (tengah) saat memberikan materi pada sosialisasi dan pembentukan KP2AC di Aula Kantor Camat Aesesa Kabupaten Nagekeo, Jumat (21/9/2018). 

Ketua P2TP2A : Nagekeo Belum Miliki "Rumah Aman"

POS-KUPANG.COM | MBAY -- Kabupaten Nagekeo belum memiliki "Rumah Aman" untuk penanganan atau tempat pelayanan bagi korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Nagekeo, Yuliana Lamury, menyebutkan angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Nagekeo semakin meningkat.

Data yang dihimpun oleh P2TP2A Kabupaten Nagekeo, tahun 2019, sampai keadaan Bulan Juni, telah terjadi 27 kasus kekerasan terhadap anak, yang didominasi kasus kekerasan seksual.

Lamury mengaku kasus tahun 2019 ini cenderung meningkat dari tahun 2018 lalu yang hanya 18 kasus.

"Trendnya meningkat, sayang sekali dan data yang saya sampaikan hanya sebatas kasus yang dilaporkan. Mungkin masih banyak kasus di luar sana yang tidak kita ketahui. Kita sangat butuh Rumah Aman.Tidak mungkin korban kekerasan pulang ke tempat yang tidak aman," ungkap Lamury kepada sejumlah wartawan di Mbay, Rabu (7/8/2019).

Lamury menyebutkan saat ini kabupaten Nagekeo belum memiliki Rumah Aman. Padahal Rumah Aman merupakan kebutuhan penting bagi korban kekerasan terhadap anak dan perempuan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan seksual.

Ia mengatakan selama ini korban kekerasan terhadap anak, terutama korban kekerasan seksual, terpaksa ditampung di rumah-rumah pribadi para Anggota P2TP2A.

"Rumah aman merupakan kebutuhan pokok dalam proses rehabilitasi dan konseling kepada para korban kekerasan, kalau bukan ditempatkan di tempat khusus, seperti di Rumah Aman, tentunya tidak maksimal. Kita perlu sebuah tempat yang kondusif bagi pemulihan psikis para korban kekerasan. Apalagi kalau korbannya masih di bawah umur, tentu butuh pendekatan dan bimbingan yang lebih intens," terangnya.

Terpisah Kepala Bidang Revitalisasi Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Nagekeo, Papy Hensontian, menjelaskan, selama belum memiliki Rumah Aman, para korban kekerasan terhadap perempuan dan anak dititipkan pada panti-panti terdekat untuk dibimbing dan direhabilitasi.

Waspada dan Percaya ini, Pria ini Meninggal Mendadak Usai Minum Air Dingin Setelah Olahraga

Ribuan Mahasiswa dan Dosen Unipa Maumere Turun ke Jalan, Ada Apa?

"Biasanya kami titipkan ke Panti di Lembata atau Mataram, dengan persetujuan orang tuanya," ungkapnya.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan)

Penulis: Gordi Donofan
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved