Kelompok Usaha Ikan Air Tawar Tunfeu, Desa Mata Air Merasa Dianaktirikan

Kelompok usaha ikan Air Tawar Tunfeu, Desa Mata Air merasa dianaktirikan

Kelompok Usaha Ikan Air Tawar Tunfeu, Desa Mata Air Merasa Dianaktirikan
POS-KUPANG.COM/Edi Hayong
Kepala Desa Mata Air, Benyamin Kanuk bersama Ketua Kelompok Usaha Tunfeu, Dance Dethan di lokasi usaha ikan air tawar, Rabu (7/8/2019) 

Kelompok usaha ikan Air Tawar Tunfeu, Desa Mata Air merasa dianaktirikan

POS-KUPANG.COM | OELAMASI - Kelompok nelayan ikan air tawar di Dusun 5, Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kelompok Usaha Tunfeu merasa dianaktirikan pemerintah.

Pasalnya, usaha pengembangan ikan air tawar sejak tahun 2010 di lahan sendiri ini, awalnya diberikan bantuan bibit ikan dari Dinas Perikanan Kupang, namun dalam perjalanan seperti lepas tangan.

Kejutan Apa yang akan Dibuat Megawati Saat Kongres V PDI-P di Bali, Simak Penjelasan Puan

Demikian diutarakan Ketua Kelompok Usaha Tunfeu, Dance Dethan kepada wartawan, Rabu (7/8/2019).

Dance Dethan mengatakan, kelompok nelayan air tawar ini sejak tahun 2010. Pada tahun 2012, Dinas Perikanan membantu bibit ikan nila sekitar 2.000 ekor. Selain itu ada bantuan ikan bawel dari Dinas Perikanan NTT. Bersama anggotanya sebanyak 22 orang, usaha ini terus dikembangkan.

Aset Pemerintah Pusat di Jakarta yang Tukar Guling untuk Bangun Ibu Kota Baru Ada di Kawasan Ini

"Kami cuma merasa kenapa setelah berikan bantuan, tidak ada pendampingan lanjutan. Minimal dinas berikan pelatihan pembudidayakan ikan air tawar. Kami juga petani nelayan. Cuma sejak 2012, kami seperti dianakitirikan. Harapan kami dinas perhatikan kelompok yang kembangkan ikan air tawar juga," kata Dance.

Ketua BPD Mata Air, Yesaya Ndoen juga menyatakan keprihatinan terhadap ketidakpedulian dinas terhadap kelompok nelayan ikan air tawar. Dinas tidak boleh melihat usaha seperti ini sebelah mata karena warga yang ada selain petani sawah juga pekerjaan lain berupa budidaya ikan air tawar.

"Lahan milik warga. Sudah ada semangat untuk kembangkan budidaya ikan air tawar. Masa pendampingan berupa pelatihan saja tidak bisa. Jangan cuma lihat nelayan di laut saja dan tidak lihat yang budidaya ikan air tawar," katanya.

Secara terpisah Kepala Desa Mata Air, Benyamin Kanuk mengatakan, dirinya sangat sesalkan pernyataan kepala dinas soal tidak ada nelayan. Nelayan itu ada nelayan di laut ada juga nelayan ikan air tawar. Apalagi kelompok inipun sudah berusaha selama ini, tetapi pendampingan tidak pernah ada dari dinas.

"Kelompok sudah ada. Lokasi ada dan memang ada dana pemberdayaan dari dana desa. Tapi pembinaan berupa pendampingan juga dibutuhkan petani nelayan seperti ini. Berdayakan kelompok yang sdh ada dan tidak perlu bentuk baru lagi," ujar Beni. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Edi Hayong)

Penulis: Edy Hayong
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved