BRSKP Napsa Satria Batu Raden Gelar Sosialisasi dan Koordinasi Rehabilitasi Korban Napsa di NTT

Balai Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan (BRSKP) Narkotika dan zat adiktif lainnya (Napza) Batu Raden Yogyakarta meng

BRSKP Napsa Satria Batu Raden Gelar Sosialisasi dan Koordinasi Rehabilitasi Korban Napsa di NTT
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
. Suasana Sosialisasi dan koordinasi rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan Napza di Hotel Neo Aston Kota Kupang, Rabu (7/8/2019). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Balai Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan (BRSKP) Narkotika dan zat adiktif lainnya (Napza) Batu Raden Yogyakarta menggelar sosialisasi dan koordinasi rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan Napza di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu (7/8/2019).

Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk membangun komitmen bersama antar pemangku kepentingan di Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui program rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan Napza.

Sejumlah pihak yang hadir dalam sosialisasi dan koordinasi tersebut, antara lain dari pihak Kementerian Sosial RI, Polda NTT, Dinas Pendidikan, Kemenkumham, Kebangpol, IPWL, Pengadilan, Kejaksaan, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Kementerian Agama dan sejumlah lembaga swasta lainnya.

Sosialisasi dan koordinasi yang berlangsung di Hotel Neo Aston, Selasa (7/8/2019) dibuka oleh Kepala BRSKP Napsa Satria Batu Raden, Dra. Restyaningsih, MM.

Semua  Kerja, Sikka   Bisa  Turunkan Stunting

Investigasi Kebakaran Gedung Logistik Polda NTT, Tim Labfor Bareskrim Polri Bawa Sampel

Diwawancarai POS-KUPANG.COM, Restyaningsih mengungkapkan, peredaran dan penggunaan narkotika semakin masif dan oleh karenanya mendapat perhatian besar dari Pemerintah hingga pemerintah, oleh Presiden RI menetapkan status darurat narkoba.

BRSKP Napza Batu Raden sendiri, kata dia, saat ini tengah berupaya membangun jaringan dan koordinasi di NTT. Menurutnya BRSKP Napsa Batu Raden menjangkau sebanyak 16 Provinsi di Indonesia termasuk NTT. Di NTT sudah ada dua institusi penerima wajib lapor (IPWL) dari Batu Raden.

"Bersama pamangku kepentingan di NTT, kami ingin membangun komitmen untuk merehabilitasi sosial korban penyalahgunaan Napza. Tidak hanya itu, juga membina para korban ini di kemudian hari bisa hadir di tengah masyarakat dan memberikan kontribusi positif," ungkapnya.

Restyaningsih menyebut, berdasarkan data yang mereka terima dari pihak Polda NTT, diperkirakan terdapat 39 ribu pengguna Napza. "Untuk data validnya belum kami terima, secara umum, yang paling banyak di antaranya adalah Miras," ungkapnya.

Ia menyebut populasi korban penyalahgunaan Napza di Indonesia mencapai 468.665 orang. Ditargetkan tahun 2019 ini, 19.000 ribu korban direhabilitasi oleh 4 Balai di Indonesia termasuk BRSKP Napza Batu Raden dan 168 IPWL yang tersebar di Indonesia.

Ia sangat berharap pemangku kepentingan di NTT dapat merespon dan berpartisipasi aktif dalam rehabilitasi korban penyalahgunaan Napza termasuk melalui kebijakan-kebijakan pemerintah setempat.

"Ini dipahami sebagai masalah kita bersama dalam rangka menyelamatkan genarasi kita. Selanjutnya kita arahkan generasi kita untuk memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat," ungkapnya.

Ia menjelaskan, BRSKP Batu Raden siap bekerja sama dengan pemerintah NTT atau lembaga-lembaga swasta untuk merehabilitasi korban penyalahgunaan Napza. Menurutnya proses rehabilitasi memakan waktu selama kurang lebih empat bulan. (*)

Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved