Breaking News:

Human Trafficking

Seruan Perubahan dari Pertemuan Pastoral Para Uskup Regio Nusa Tenggara tentang Migran Perantau

Pertemuan Pastoral (Perpas) yang terlaksana di Keuskupan Atambua, 22-27 Juli 2019 lalu, berakhir dengan rekomendasi pastoral yang kontekstual.

Editor: Agustinus Sape
Facebook/dinas transnakerende
Para uskup peserta pertemuan pastoral Regio Nusa Tenggara disambut di pelataran Gereja Katedral Atambua, 22 Juli 2019. 

Keprihatinan Gereja Nusa Tenggara terhadap migran dan perantau sangat beralasan. Persoalan kemanusiaan mencuat ke permukaan. Dalam setahun jenazah dipulangkan ke kampung halaman dalam jumlah yang tidak sedikit.

Bersentuhan dengan masalah hukum. Ini menjadi tanda tanya besar. Banyak orang pergi tanpa kelengkapan dokumen. Ikut-ikutan tanpa motivasi yang jelas. Satu ritme hidup yang berujung kesia-siaan.

Kepedulian Gereja terhadap masalah ini (baca: migran perantau) bukan lagi semata opini. Kata-kata saja tak cukup menatap derita yang kian menganga lebar. Banyak kisah sungguh menyayat hati. Tragis dan penuh tangis pilu.

Ada kasus tenaga kerja di Malaysia. Tubuh penuh jahitan, Jenazah TKI Milka Boimau Diotopsi. Salah satu judul Media online, Kompas.com (Senin, 28/03/2018).

Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ini berasal dari Desa Kotabes , Kecamatan Amarasi, Kupang, NTT.

Proses otopsi dilakukan setelah keluarga Milka melaporkan ke Polda NTT. Mereka tak menerima tubuh TKI Milka penuh jahitan.

Terlintas pula deretan kisah sedih lain yang terkubur dalam waktu. Belum terungkit di permukaan. Perhatian Gereja sebagai kepedulian hendaknya mulai dibangun. Tanggung jawab dan tindakan nyata bukan lagi untuk dibahas. Tidak cukup dalam kaca mata teoretis. Kini saat yang tepat untuk mengkonkretkan seruan kenabian demi tindakan penyelamatan.

Seberapa besar pola pendampigan kita yang mampu memberi solusi demi satu perubahan?

Masalah migran perantau kini menjadi titik fokus untuk dibenahi. Keinginan sepihak karena tuntutan ekonomi. Situasi sosial yang mengharuskan mereka untuk pergi mengadu nasib.

Pola pikir yang tidak tepat tentang potensi tanah asal yang tidak memberi jaminan hidup yang layak.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved