Bupati Belu Khawatir Banjir Terus Mengerus Lahan Pertanian Indonesia di Perbatasan

Kondisi Banjir yang terus mengerus Lahan pertanian Indonesia di perbatasan membuat Bupati Belu khawatir

Bupati Belu Khawatir Banjir Terus Mengerus Lahan Pertanian Indonesia di Perbatasan
POS-KUPANG.COM/Teni Jenahas
Bupati Belu, Willybrodus Lay saat meninjau lahan pertanian milik warga di bantaran Kali Malibaka Selasa (6/8/2019) 

Kondisi Banjir yang terus mengerus Lahan pertanian Indonesia di perbatasan membuat Bupati Belu khawatir

POS-KUPANG.COM | ATAMBUA - Puluhan hektare lahan pertanian di sekitar Kali Malibaka, Desa Manumutin, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, NTT sudah lenyap akibat tergerus banjir beberapa tahun belakangan ini.

Selain melenyapkan lahan pertanian milik Indonesai, perbatasan antara negara Indonesia dan Timor Leste juga menjadi kabur. Sebab, wilayah Indonesia dan Timor Leste dibatasi oleh sungai tersebut.

Maria Lantik 263 Anggota Pramuka Penggalang di SMP Negeri 1 Bajawa

Ketika sungai bergeser terus ke wilayah Indonesia maka patok batas negara bukan lagi di pinggir sungai tetapi berada dalam satu daratan dengan Timor Leste.

Lahan pertanian milik Indonesia menjadi hilang. Sebaliknya, wilayah Timor Leste menjadi bertambah karena bekas alur sungai sudah menjadi darat.

Klinik Wae Laku Ruteng Siap Beri Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat

Bupati Belu, Willybrodus Lay yang meninjau langsung ke lokasi tersebut, Selasa, (6/8/2019) mengatakan,
sungai terus menggerus wilayah Indonesia karena di wilayah Timor Leste sudah di bangun tembok penahan banjir sedangkan di wilayah Indonesia tanpa tembok penahan banjir.

Ketika hujan, banjir menggerus terus wilayah Indonesia. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, jika tidak segera ditangani maka sungai terus bergeser ke wilayah Indonesia sehingga lahan pertanian juga bisa hilang.

"Sekarang ini, pilar batas negara bukan lagi dipingir sungai seperti yang dulunya tetapi sudah satu daratan dengan wilayah Timor Leste.
Satu saat di tempat yang kita berdiri ini sekitar 500 meter atau 300 meter dari sungai akan kalau tidak ada penanganan akan menjadi kali", kata Bupati Willy Lay.

Menurut Willy Lay, Pemerintah Indonesia harus segera menangani kondisi tersebut karena sesuai laporan masyarakat sudah puluhan hektare lahan pertanian milik Indonesia sudah hilang akibat tergerus banjir.

"Tahun lalu sungai itu bukan situ. Sekarang sudah bergeser masuk ke Indonesia. Kalau tidak ada tembok penahan banjir maka banyak tanah kita yang hilang karena sungai terus bergeser," kata Bupati Willy Lay yang saat itu didampingi Kajari Belu, Alfons Loe Mau.

Terhadap kondisi tersebut, Bupati Willy mengharapkan perhatian dari Pemerintah pusat untuk menangani masalah tersebut. Pemerintah Kabupaten Belu juga akan mengajukan proposal ke Menteri PUPR atau Badan Pebgelolaan Perbatasan.

"Saya juga mengharapkan ada program dari Pemerintah pusat untuk penangani masalah ini. Kebetulan masalah perbatasan bukan kewenangan pemerintah kabupaten, nanti saya akan segera membuat proposal untuk Kementerian PUPR atau badan pengelola Perbatasan untuk menangani masalah ini", kata Willy Lay.

Ditanya mengenai panjang bantaran kali yang harus ditangani segera, Bupati Willy mengatakan, secara teknis belum dihitung namun sesuai laporan pemerintah desa, panjangnya mencapai empat kilometer.

"Ini tadi kita sudah lihat dan masyarakat mengatakan sudah 50 hektare lahan yang hilang akibat digerus banjir. Kalau panjangnya sekitar empat kilometer", ungkap Willy Lay. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Teni Jenahas)

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved