Berita Puisi

Ini Puisi-Puisi Edisi Minggu Pos Kupang, Kepoin Yuk!

Puisi-Puisi Jhoni Lae :Enigma/Mungkin untuk seribu satu kali aku mengetuk palu. Kau divonis kalah.

ilustrasi/tribunnews.com
Puisi Pos Kupang 

Puisi-Puisi Jhoni Lae
Enigma

Mungkin untuk seribu satu kali aku mengetuk palu.
Kau divonis kalah.
Dari balik senyummu yang ranum ternyata kau sembunyikan binasa.
Kau mendentumkan otakmu seperti letusan Krakatau.
Lavanya mengalir dan pergi.
Tinggalkan kebinasaan.
Pada labirin dendam, doa tertimbun reruntuhan peluh.
Selang-selang udara menguapkan darah.
Sebelumnya gerombolan semut berdasi lalu lalang mencari makan.
Mungkin kau sudah membunuh mereka dengan dentuman otakmu.

Di jalan menuju surga kau seperti mabuk memuji diri. Jejak-jejak tetangga yang kebetulan terpahat di samping rumahmu kau bakar dengan apimu.
Bahkan di dapur tetangga kau padamkan api di tungkunya.
Kau merampas semua asanya seperti kau adalah satu-satunya pemilik panggung drama.
Setiap yang memanggung selain kau, dia harus binasa.
Pencopet memakai topeng untuk menyembunyikan wajanya. Dan kau memakai topeng.

Aku yakin sewaktu-waktu topengmu akan koyak oleh embun-Nya.
Pasti sewaktu-waktu perpustakaan adalah ruanganmu membaca tobat dan rumah ibadah akan menjadi rumahmu meleraikan perkelahian di dalam dirimu.
Kau akan menggubah Enigma menjadi mazmurmu yang akan kau lantunkan setiap matahari terbit atau terbenam.
(Kupang, Maret 2019)

Gadisku di Sudut Nisan :Cerpen Arnold Aliando Bewat

Musafir

Pada setiap langkahnya
Bibirnya mengunya-ngunya doa,
Kepalanya menyusuri pohon-pohon
Mahoni yang besar dan keras

Dari satu pohon ke yang lain
Seorang lelaki disampingnya mengucapkan ayat-ayat permisi,
Dengan ludah merah seperti darah
Rumput-rumput di bawah pohon mandi darah

Dia melangkah sendirian
Selepas lelaki pengucap ayat-ayat permisi itu pergi
Membangun tenda perjamuan
Menanti pohon-pohon yang menuntut tumbal

Kakinya sendiri memulau
Manatang Sabda
Membilang langkah
Dan terus sampai bilangan akhir
(Kupang, Maret 2019)

Kepada

Kepada...
Kamu yang rindang dijejaki
Yang teduh menaungi setiap sajakku
Dan yang tulus memberi rasa
Selamat dan semangat menebar senyum di kota besarmu

Pada setiap denyutan yang menghidupkan
Aku selalu menyisipkan rindu kecil
Mendendangkan kisah-kisah jenaka
Yang keluar bak rasa sejuk dari pancuran bibirmu

Aku juga rindu meyuapkan benci
Karena tingkah yang berbeda
Yang saat aku sengaja menengok
Kau juga bermantra penuh benci

Kepada...
Setiap kali kenangan itu mampir kembali
Tersenyum adalah litani tak tertunda
Dan sekarang kau sudah menjauh
Dan setidaknya kita pernah menjadi gila bersama

Raffi Ahmad Cemburu, Nagita Slavina Jawil-Jawil Pipi Iqbaal Dilan, Singgung Yuni Shara

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved