Renungan Harian Kristen Protestan Sabtu 3 Agustus 2019: Pemimpin Janganlah Terjebak "Sindrom Toga"

Renungan Harian Kristen Protestan Sabtu 3 Agustus 2019: Pemimpin Janganlah Terjebak "Sindrom Toga"

Renungan Harian Kristen Protestan Sabtu 3 Agustus 2019: Pemimpin Janganlah Terjebak
dokumentasi pribadi
Zascary F.R. Luik, S.Si 

Kisah ini menunjukkan konflik antara Yonas dan Eli. Konspirasi yang dirancang Eli dan menyeret beberapa majelis, berujung pada ide perpecahan dalam tubuh jemaat.

Pendeta Yonas yang ada dalam konflik terbuka dengan Eli diperhadapkan pada situasi puncak, saat aksi “walk out” dalam sebuah rapat dan “aksi tutup mulut” Nenek Maria. Hal ini menimbulkan Eli membatalkan niatnya.

Ketiga orang dalam kisah ini memiliki kewibawaan. Yonas dengan atribut-atribut kehormatan, dimana: dia saja yang memakai toga, dia saja seorang sarjana di kampung itu, dia saja yang mengantongi SK Majelis Sinode; yang mana membuat ia memilikikewibawaan institusional dalam penahbisan dan SK tugas yang diterimanya.

Sedangkan Eli adalah seorang bangsawan, keturunan dari ‘tuan tanah’ di kampung, membuat ia memiliki kewibawaan sosial berdasarkan posisi yang diwarisinya dalam struktur sosial setempat.Tetapi NenekMaria, secara informal adalah ‘tua jemaat’, kalah wibawa dari Pdt. Yonas dan Eli, apalagi dia seorang perempuan. Tetapi, ia memiliki kewibawaan relasional seperti Eli, dimana keteladanan dan sikapnya yang tulus sebagai bidan memberi dia kewibawaan moral dan spiritual.

Dinamika yang terjadi, menempatkan kewibawaan Pastoral versus Kewibawaan Kharismatis.

Gereja (dan juga para pelayannya/pastor) sering terjebak dalam pola kekuasaan ketika yang diandalkan adalah kewibawaan institusi saat menuntut haknya. Harusnya pengakuan atas kewibawaannya lahir dari hati jemaat atas kerja-kerja nyata dalam pelayanan yang menunjukkan moral dan spiritualitas yang mumpuni dari seorang pemimpin jemaat.

John Campbell-Nelson, menyisakan pertanyaan untuk kita jawabsendiri, sumber kewibawaan mana yang mau dipakai oleh gereja Kristen, dengan melihat kembali landasan “kepemimpinan abdi” (servant leadership) yang tergambar dalam awal tulisan ini.

Tidak otoriter karena predikat yang disandangnya, tidak angkuh, tidak terjebak dalam statusnya. Mengutip Pak Sem Niti, ia mengatakan pemimpin yang meneladani Yesus tidak akan “main perintah” tapi merendahkan diridan memimpin jemaat melalui contoh pengabdian. (hal. 50) 

Sindrom Pendeta Baru

Apa yang digambarkan John Campbell-Nelson terhadap kesulitan yang dihadapi oleh Yonas sebagaiseorang Pendeta yang baru ditempatkan sering diistilahkan “pendeta nol kilometer”,  analogi ini mau menunjukkan pendetabaru yang butuh banyak belajar di lapangan dan yang masih minim pengalaman, apalagi sewaktu kuliah tidak terlibat dalam organisasi, ketika berada dijemaat, ada kecendrungan dimana ia mendapat legitimisasi kekuasaan sehingga salah dalam memanfaatkan jabatan pelayannya.

Ada lagi, sindrom yang kerap muncul ketika seseorang baru menjabat sebagai seorang pendetayakni, “sindrom toga”.

Ketika masih sebagai mahasiswa di sekolah teologi, ia santun, rendah hati, tetapi ketika ia menjadi pendeta, seketika berubah 180 derajat. Karna ia mencoba memposisikan dirinya sebagai seorang yang berwibawa, yang datang dengan “ambisi” mau merubah jemaat, akhirnya bersifat arogan dalam pola kepemimpinannya. 

Hubungan Relasi yang Buruk

Selain sembunyi di balik kekuasaan institusional (toga/SK), permasalahan lain yang kerap muncul bahkan menjadi konflik kepemimpinan di Jemaat, misalnya: ketegangan yang terjadi antara pendeta lama denganpendeta baru, terkadang pendeta lama kerap kali masih mengintervensi soal-soal keuangan, liturgi, bahkan hal-hal kecil lainnya.

Ada semacam “ego” pendeta lama sehingga minus relasi antara dirinya dengan pendeta baru. Hal ini bisa diperburuk lagi jika di Jemaat sudah ada tertanam memori pendeta lama yang menjadi ukuran pembanding bagi pendeta baru.

Membangun Sebuah Kesadaran

Memaknai sebuah panggilan pelayanan, apa yang telah dipaparkan tulisan di atas haruslah menjadi pertimbangan seorang Pedeta baru yang turun dalam lapangan pelayanan.

Konflik pasti ada, namun, membangun kemitraan dalam pelayanan menjadi kata kunci dengan tidak melihat kewibawaan sebagai sesuatu yang harus dicari-cari atau dibuat-buat.

Terlalu idealis, otoriter, menganggap orang lain rendah adalah sikap yang harus dihindari, sebaliknya, dengan bijaksana seharusnya dengan memaknai perkataan Kristus “Engkau ku utus ke tengah-tengah serigala”. Kita harus memetakan situasi dengan mengetahui, siapa “serigala” dan  siapa “domba”.

Sembari membangun integritas diri, membangun kermitraan dengan mereka yang berpengaruh atau memiliki kewibawaan di Jemaat, sambil belajar darinya, akan menghindari kita dari konflik-konflik yang mungkin terjadi di jemaat.

Atau belajar dari nenek Maria, pemimpin yang baik harusnya memiliki wibawa rohani dengan menunjukkan ketenangan, sehingga ia pun dihargai.       

Memang hal yang perlu diakui juga menyangkut kewibawaan kadang-kadangmenempatkan pendeta dalam posisi dilematis; sebagai pelayan dan sebagai ketua majelis jemaat (organisatoris).

Di satu sisi ia harus berjiwa‘sosial’ dan satu sisi lain, ia harus berjiwa ‘pemimpin’ dengan menjaga kewibawaannya, dalam mengatur tata kelola jemaat (mempertahankan kewibawaan institusionalnya).

Jadi perpaduan pola-pola kepemimpinan ini harus terus dibangun, dan dijaga, dengan pandai membaca situasi serta tau menempatkan diri.

Kepemimpinan selalu ada dalam proses menjadi. Kematangan seorang pemimpin terpancar dari spiritualitas yang dimilikinya dan menghadirkan wibawa seorang pemimpin.

Kewibawaan bukanlah sesuatu yang instan, tetapi dibangun dalam relasi, spiritual dan iman terus menerus.Dalam spiritualitas kepemimpinan, kewibawaan seorang pemimpin adalah melayani (Lukas 22:26; Markus 10:43-44; Yohanes 13:14).

Proses ini terus terjadi, dengan mengidentifikasi diri pada tugas panggilan dan tugas kepemimpinannya, mengerti  kepada siapa ia diutus dan yang mengutusnya.

Yesus sendiri memberi teladan dengan membasuh kaki murid-murid, dengan pesan yang nyata ini, Ia sendiri menegaskan bahwa dalam tanggung jawab apapun, baik sebagai pemimpin atau pun yang di pimpin harus saling melayani. Melayani adalah suatu kewajiban (Yohanes 13:14).

Secara psikologis di lapangan kepemimpinan, seorang pemimpin baru bisa seketika menjadi berbeda, arogan, angkuh dan egois. Bagaimana memastikan hal ini tidak terjadi?

Melalui pendidikan dengan spiritualitas kepemimpinan yang diajarkan Yesus, darijenjang dasar hingga atas, organisasi kampus, organisasi masyarakat maupun gereja adalah tahap awal belajar membangun spitualitas kepemimpinan sebelum akhirnyaujian di lapangan secara langsung.

(*)

Editor: Eflin Rote
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved