Pengembangan Tujuh Lokasi Wisata Baru Jadi Penyangga Labuan Bajo

Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi NTT mendukung rencana Pemprov NTT untuk pengembangan tujuh lokasi wisata baru.

Pengembangan Tujuh Lokasi Wisata Baru Jadi Penyangga Labuan Bajo
POS-KUPANG.COM/Adiana Ahmad
Ketua ASITA NTT, Abed Frans 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi NTT mendukung rencana Pemprov NTT untuk pengembangan tujuh lokasi wisata baru.

"Karena kita tidak bisa hanya mengandalkan Labuan Bajo sebagai destinasi NTT. Justru kita perlu untuk membangun destinasi penyangga Labuan Bajo sebagai Beyond Labuan Bajo," kata Ketua DPD Asita NTT, Abed Frans ketika diminta tanggapannya, Rabu (31/7/2019) .

Untuk diketahui Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT mengembangkan tujuh objek wisata untuk dijadikan destinasi baru. Anggaran setiap objek Rp 1,25 miliar. Penataan objek wisata yang tersebar di tujuh kabupaten itu sedang dilaksanakan dan ditargetkan selesai Oktober 2019.

Tujuh objek wisata dimaksud, adalah Pantai Liman di Kabupaten Kupang, Fatumnasi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Mulut Seribu di Kabupaten Rote Ndao. Berikutnya, Kampung Adat Koanara di Ende, Lamalera di Lembata, Wolwal di Alor dan Praimadita di Sumba Timur.

Kenali Kanker Otak Glioblastoma yang Renggut Nyawa Agung Hercules Selebriti Berbadan Kekar

Ibu Masukkan Tisu ke Mulut Bayinya Sampai Tewas Usai Melahirkan di Toilet Rumah Sakit,Kronologi

Abed menegaskan langkah Pemprov NTT sudah tepat. Karena penataan Labuan Bajo sudah mendapat support dari pemerintah pusat secara luar biasa.

"Jadi ya...tidak ada salahnya jika pemprov mengembangkan destinasi lainnya sebagai penyangga Labuan bajo," tandasnya.

Pesan yang bisa disampaikan dari Asita NTT, lanjut Abed, yaitu diperlukan sarana interline antara tujuh destinasi tersebut dengan Labuan bajo sebagai main destination- nya.

"Artinya kita memerlukan kemudahan jalur transportasi antara semua destinasi tersebut. Misalnya ada rute penerbangan dari Labuan bajo ke Sumba, ke Alor, Rote, dan seterusnya," ujarnya.

Masalah seperti apa penataannya, kata Abde, Asita NTT serahkan kepada pemerintah daerah.

"Yang penting 3A (Aksesibilitas, Amenitas, dan Atraction) harus tersedia," sebutnya.

Mengenai objek wisata dikelola Badan Usaha Masyarakat Desa (BUMDes), Abed berharap pengelola BUMDes bisa memanage destinasi atau tempat wisata tersebut dengan baik.

Abed mengatakan, sumber daya manusia BUMDes harus mendapat pelatihan, bahkan sudah tersertifikasi.

"Yang paling penting, masalah keamanan dan kebersihan sekitar destinasi. Itu faktor penting dalam dunia pariwisata," tegas Abed.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Hermina Pello)

Penulis: Hermina Pello
Editor: Hermina Pello
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved