Teater 'Sako Jung' SMAS St.John II Paul Maumere Ingin Tampil di Mancanegara

Ingatan kita juga tentunya lekat dengan konflik-konflik sengketa tanah yang marak di berbagai pelosok

Teater 'Sako Jung' SMAS St.John II Paul Maumere Ingin Tampil di Mancanegara
SMAS Katolik St.John Paul II Maumere
Penampilan Teater Refrein SMAS Katolik St.John Paul II Maumere, Pulau Flores dalam Festival Teater Tubuh Indonesia, Rabu (24/7/2019) di Bandung, Jawa Barat. 

Teater  Sako Jung  SMAS St.John Maumere Paul  Ingin Tampil  di  Mancanegara

POS-KUPANG.COM|MAUMERE--Sukses dua  kali mengikuti  festival  teater  nasional 2018 dan 2019  menjadi  batu loncatan bagi Teater  Sako Jung   SMAS  Katolik St. John  Paul  II  Maumere,  Pulau Flores  tampil di  festival  teater mancanegara.

 Dua  event  diikuti,  Festival Teater Tubuh Indonesia  di  Bandung, Jawa  Barat, 23-28  Juli  2019   dan  Festival Teater Pelajar  Sendratasik (Drama) Universitas Negeri Surabaya  bulan  Oktober 2018  di  Surabaya, Jawa  Timur.

 “Ini batu loncatan untuk boleh mengikuti festival teater internasional di manca negara,”  ujar  Kepala   SMAS Katolik St.John  Paul II  Maumere,  RD. Fidelis Dua, kepada  POS-KUPANG.COM, Rabu  (31/7/2019)  di  Maumere.

Festival ini, kata  RD.Fidel menjadi kesempatan terbaik bagi anak-anak  mengembangkan bakatnya di bidang teater. Lewat Teater Sako Jung, mereka belajar menjadi pemeran yang hebat dari kelompok-kelompok teater yang terkenal dan hebat di tanah air.

 Guru Seni Budaya  SMAS  Katolik St. John  Paul II Maumere, Maria Ludvina Koli, S.Pd, mengatakan   Teater  Sako Jung tak semata promosi budaya  Sikka  keluar  daerah atau menjual eksotika kedaerahan.

Lebih dari itu, Teater Sako Jung mengingatkan kembali budaya yang dibangun para pendahulu dalam kreativitas berkebun seperti bebunyian, gerakan tubuh dan syair-syair lagu yang menyimpan nilai-nilai kebersamaan, kerja keras dan gotong royong.

“Teater Sako Jung mengingatkan kita bahwa tubuh manusia adalah modal  membangun kekuatan, kebersamaan dan upaya untuk bertahan hidup. Sekuat apa pun manusia, ia membutuhkan sesama untuk bekerja sama,” kata  In, sapaanMaria Ludvina Koli.

Pesan  lain   yang disampaikan  dari  Teater Sako Jung tentang  sakralitas tanah. Tanah harus dijaga dan dirawat. Tanahadalah tempat manusia berpijak dan memberi kehidupan pada manusia.

“Ingatan kita juga tentunya lekat dengan konflik-konflik sengketa tanah yang marak di berbagai pelosok,” kata  Iin.

Ia  menjelaskan,  penggarapan  Sako Jung mengutamakan gerak tubuh, nyanyian dan tanpa banyak dialog.

Ini dimaksudkan untuk menghadirkan kembali kerja keras yang dibangun oleh para pendahulu dalam mengelolah tubuh tanpa kenal lelah dan tahan banting.

Dalam kelangsungan hidup dan berinteraksi, tubuh menjadi bahasa awal manusia. Lewat tubuh, kebersamaan yang kokoh dalam ikatan kerja antarkerabat dalam berkebun terinterpretasikan.

“Saya berharap pementasan ini dapat memberi roh baru bagi semua peserta yang hadir dalam festival ini. Ada begitu banyak yang harus kita pertahankan seperti tradisi dan alam di tengah gempuran arus globalisasi. Sekurang-kurangnya, anak-anak yang terlibat dalam pementasan ini dapat belajar kekayaan budaya mereka. Ada banyak nilai yang akan mereka peroleh. Saat berproses, mereka terlibat dan melihat itu semua. Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, kesadaran mereka dibuka dan mereka dapat belajar mendisiplinkan diri mereka,” jelasnya.

Ini Yang Dilakukan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat Saat Dapat Kunjungan dari DPRD Maluku

Jefri Riwu Kore Resmikan Sumur Air dan Tanam Pohon di SMPN 10 Kota Kupang

Taater  Sako  Jung, tampil   Rabu (24/7/2019)  diakui In mendapat apresiasi tinggi audiens. Para peserta menari bersama saat tabuh gong waning tanda pentas Sako Jung ditutup. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eginius Mo’a)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved