Uskup Atambua dan Bupati Belu Aktif Diskusi Stunting

Pemerintah Kabupaten Belu melakukan gerakan secara besar-besar untuk memerangi masalah stunting

Uskup Atambua dan Bupati Belu Aktif Diskusi Stunting
POS-KUPANG.COM/ Teni Jenahas
Uskup Atambua, Mgr, Dr. Dominikus Saku dan Bupati Belu, Willybrodus Lay terlibat aktif dalam diskusi kelompok peduli stunting di Kabupaten Belu, Selasa (3072019). 

Uskup Atambua dan Bupati Belu Aktif Diskusi Stunting

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Teni Jenahas

POS KUPANG.COM| ATAMBUA- Pemerintah Kabupaten Belu melakukan gerakan secara besar-besar untuk memerangi masalah stunting. Seluruh elemen masyarakat dihadirkan di Aula Betelalenok, Selasa (30/7/2019) untuk mengikuti kegiatan rembuk stunting.

Gerakan ini diawali dengan pemaparan materi oleh beberapa narasumber, salah satunya Uskup Atambua, Mgr, Dr. Dominikus Saku. Setelah pemaparan materi dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang dipandu Kepala Bappeda Kabupaten Belu, Frans Manfe. Peserta dibagi dalam empat kelompok. Suasana diskuso sangat cair namun serius dalam memberikan ide dan gagasan.

Disaksikan Pos Kupang.Com, Uskup Atambua, Mgr, Dr. Dominikus Saku dan Bupati Belu, Willybrodus Lay terlibat aktif dalam diskusi kelompok. Uskup dan bupati berada di kelompok kerja (Pokja) Persedian Pangan. Di kelompok ini hadir juga Ketua PPK Kabupaten Belu, Ny. Vivi Lay.

Uskup Dominikus tampak serius memberikan gagasan tentang metode penanganan stunting di Kabupaten Belu. Bupati Belu juga demikian. Ia memberikan ide kepada anggota kelompok tentang upaya yang harus dilakukan kedepannya.

Diskusi kelompok ini untuk membahas dan merumuskan metode pencegahan stunting di berbagai aspek yang terbagi dalam empat kelompok kerja (pokja).

Pemkab Belu Gerakan Masyarakat Peduli Stunting

Kepada Pos Kupang.Com, Uskup Dominikus mengatakan, stunting merupakan masalah bersama yang harus segera ditangani. Salah satu bentuk dukungan geraja adalah ia selaku uskup menghadiri acara rembuk stunting sekaligus memberikan ide dan gagasan untuk mencegah stunting.

Menurut Uskup Dominikus, tiga lingkaran setan yang menyebabkan stunting adalah kemiskinan, kemalasan dan kebodohan. Tiga masalah dasar ini yang harus diberantas sehingga masalah stunting bisa diatasi.

Menurut Uskup Dominikus, kemiskinan, kemalasan dan kebodohan saling berkaitan. Miskin disebabkan banyak hal, salah satunya malas bekerja. Akibat malas kerja maka pendapatan dalam keluarga hampir tidak ada sehingga masyarakat tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

"Untuk memenuhi kebutuhan makan saja sudah susah apalagi untuk memperbaiki gizi anak-anak. Ini karena masalah kemiskinan," ungkap Uskup.

Tekan Angka Stunting dan Kemiskinan, Bapeda Siapkan Program Taskin Pemandu

Lanjut Uskup Dominikus, perlu ada pemahaman yang baik dalam lingkungan keluarga serta menata sistem keluarga yang berpihak pada pemenuhan kebutuhan gizi anak. Uskup mencontohkan, dalam acara adat, anak-anak yang sesungguhnya menjadi pusat perhatian untuk mendapatkan asupan makanan bergizi, malah dikesampingkan. Anak-anak justru mendapat giliran makan paling terakhir dan asupan gizi yang didapat porsinya paling sedikit. Sebaliknya orang dewasa yang justru mendapat asupan gizi lebih banyak.

Hal semacam ini harus diperhatikan dengan cara memberikan pemahaman secara terus menerus di lingkungan rumah tanggga dan di lingkungan masyarakat.

Kepada calon suami dan istri harus dididik untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai orangtua dengan baik. Kemudian, masyarakat juga mesti diwajibkan untuk bekerja.

"Kita kerja bukan sebagai hamba atau budak tetapi kerja secara bermartabat sebagai anugerah yang diberikan Allah untuk mengelola bumi," kata Uskup. (*).

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved