Berita Puisi

Kepoin Yuk! Ini Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini, Siapa Tahu Namamu Tercatata di Sini

Puisi Pos Kupang Minggu Ini, Puisi Melki Deni; Menari Kepiluan, Tadi aku tega menyerah dalam pelukan itu.

Kepoin Yuk! Ini Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini, Siapa Tahu Namamu Tercatata di Sini
ilustrasi/tribunnews.com
Cerpen Mariposaku Yang Tersesat 

Puisi-Puisi Melki Deni
Menari Kepiluan

Tadi aku tega menyerah dalam pelukan itu.
Pelukan adalah ritus tersempurna mendeskripsikan keluh ini.
Aku telah menelan kata tobat kemarin,
tiba-tiba aku tertakluk,
ketika dijemput di ujung tebing putus rasa.
Memang itu mimpi dalam siesta, tapi lebih nikmat daripada kenyataan.
Mimpi adalah jawaban terlengkap mengenai narasi terputus.
Aku telah menyantap hidangan kepiluan empat bulan.
Enaknya meracuni hulu darah murni ini.
Aku menari kepiluan di tengah samudra buana.
Sebab hidup adalah komplikasi seni tarian,
yang bahagia dan yang telantar,
yang hambar dan yang madu.
Aku dibuang dalam danau air mata terkumuh,
merenang dengan lunglai.
Air mata adalah bius total tuk menghabisi narasi hikayat ini.

Catatan Kecil pada Halaman Awal

Aku hanyalah catatan kecil pada kaki halaman-halaman hidupmu.
Entah ditenun sebagai ibidem,
Aku tidak peduli hanya sebagai opere citato,
Mungkin nasibku akan menjadi loco citato.
Semoga tidak lupa.
Huruf-huruf saat menenun narasi drama ini.
(Melki Deni, Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere NTT. Ia sering menulis pada koran-koran lokal, beberapa jurnal kampus dan media daring).

Cerpen Fransiskus SarDhy : Mariposaku Yang Tersesat

Puisi-Puisi Peter Ronaldo Thaal
Jalah Yang Mandul

Cerita aneh-jenaka ini datang dari nelayan di seberang pantai.
Mereka menganyam jalah lalu menebarkannya pada tanah yang lembab untuk mendapatkan lalat dan nyamuk yang banyak.
Sia-sia membaca mantra.
Seribu tahun berlalu generasi merekapun tidak mendapatkan hasil.
Waktu itu.
Seribu tahun kemudian, sahabat mereka datang dan mengatakan, "Tebarlah jalah itu pada air". Sedetik setelah ungkapan sahabat mereka ikanpun datang pada jalah untuk meminta makan.
Generasi merekapun, akhirnya sarapan pagi sampai kenyang setelah seribu tahun tidak ada sarapan.
Heran
Setelah mereka sarapan baru mereka tahu bahwa sahabat mereka sudah pergi dari seribu tahun yang lalu.

Dunia Gempar! Telur Dinosaurus Berusia 66 Tahun Ditemukan oleh Bocah Berusia 10 Tahun

Cerita Tentang Manusia

Kau bekerja saat malam, saat mentari sudah berhenti bersinar.
Kemustahilan datang dan mengamuk dalam kerjamu.
Diammu kau geser sejengkal dari kerja yang padat.
Kata ibumu: "Sudahlah, kau perlu diam saat bekerja dan tak perlu bersusah payah membanting tulang yang hampir keropos itu saat gelappun datang"
Idemu adalah kerja itu memanusiawikan.
Sebab kerja saat cahaya tak ada lagi itu manusia.
Bukan manusiawi.
Saat kesia-sian bekerja yang sial selalu datang
(Peter Ronaldo Thaal, Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandira Kupang)

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved