Berita Cerpen

Cerpen Fransiskus SarDhy : Mariposaku Yang Tersesat

Namaku Mariposa, lengkapnya Rosa Mariposa.Belakangan baru aku tahu nama itu menggunakan kata Bahasa Latin dan Spanyol, pemberian ayah.

ilustrasi/tribunnews.com
Cerpen Mariposaku Yang Tersesat 

Daerahku adalah daerah yang sangat subur seperti sebuah lirik lagu 'tongkat dan kayu jadi tanaman'. Aku merasa iba dengan ibuku yang sering sakit-sakit tapi masih terus semangat bekerja.

Dalam hati kecilku aku selalu bermimpi untuk membahagiakan ibu dengan cara apapun. Niat itu selau menggema dalam diriku dan terbawa dalam hidup harianku, hingga aku tumbuh dewasa.

Seorang Pekerja Migran Asal Karimun Tewas di Malaysia, Diduga Dibunuh Teman Pria

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah kejenjang SMP karena keadaan ibu yang semakin parah. Sebenarnya aku tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali, tetapi karena di kampungku pendidikan sekolah dasar gratis, maka aku dipaksa ibuku untuk bersekolah, sekadar untuk bisa membaca dan menulis.

Aku bersyukur pada ibu yang memaksaku bersekolah. Seandainya aku tidak bersekolah mungkin aku adalah manusia primitif yang hidup di era modern, era serba canggih, era Milenial. Sayangnya aku skeptis dengan semuanya itu.

Orang-orang modern terlalu mengagung-agugkan semua benda-benda canggih, tapi tanpa sadar ditipu oleh benda-benda itu. Bahkan dibodohi.

Namun, kadang aku merasa asing dengan diriku sendiri, terlantar di tengah keramaian. Teman-temanku sibuk dengan gadgetnya yang serba canggih, memikat dan menawan hati sedangkan aku hanya diam membisu, bagai seorang difabel tapi sejatinya aku terlahir sempurna, tanpa cacat.

Entah apakah perasaan itu dilarang ataupun tidak, tapi harus kuakui bahwa aku merasa iri dengan teman sebayaku. Mereka tidak mengatakan aku orang yang kuno, miskin, terbelakang, ketinggalan zaman atau barisan-barisan litani keburukan lainnya padaku, tapi aku sadar dan tahu aku manusia klasik yang hidup di zaman mileneal.

Entah apa itu mileneal! Yang pasti kata itu tidak asing di telingaku, karena teman-temanku sering mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang hidup di zaman mileneal.

Siswi SMP Penjual Bakpao, Dewi Febriyanti Bahagia Saat Berlibur di Dufan Ancol

Aku benci menjadi diriku yangmiskin, tapi disatu sisi aku bangga dengan diriku. Aku satu-satunya gadis yang tahu apa artinya tegur sapa dalam kehidupan harian dan aku juga satu-satunya gadis yang mampu menciptakan keramaian di tengah keheningan yang dibuat-buat.

Mungkin kalian akan membenciku jika aku mengatakan keheningan yang dibuat-buat, tetapi itu sebuah realita di zaman ini, berkumpul bersama tapi asyik sendiri, asyik dengan dunianya masing-masing, asyik dengan Facebook, asyik dengan game-nya, dan asyik-asyikan yang lain. Ah, malang sekali era mileneal ini, banyak orang tapi rasanya seperti sendiri.

Halaman
1234
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved