Berita Cerpen

Cerpen Fransiskus SarDhy : Mariposaku Yang Tersesat

Namaku Mariposa, lengkapnya Rosa Mariposa.Belakangan baru aku tahu nama itu menggunakan kata Bahasa Latin dan Spanyol, pemberian ayah.

ilustrasi/tribunnews.com
Cerpen Mariposaku Yang Tersesat 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Namaku Mariposa, lengkapnya Rosa Mariposa.

Belakangan baru aku tahu bahwa nama itu adalah nama yang menggunakan kata Bahasa Latin dan Spanyol, dan nama itu adalah pemberian pamanku yang bekerja di sebuah perusahan milik orang Spanyol.

Benar yang dikatakan pepatah kuno bahwa nama adalah tanda. Rosa artinya bunga mawar dan Mariposa artinya kupu-kupu. Akulah bunga mawar kupu-kupu.

Dunia Gempar! Telur Dinosaurus Berusia 66 Tahun Ditemukan oleh Bocah Berusia 10 Tahun

Aku dilahirkan dari sebuah keluarga yang sangat miskin dan sederhana, sebenarnya tidak sederhana tapi karena keterbatasan dan kekurangan ekonomi, mau tidak mau suka tidak suka harus hidup sederhana.

Ayahku meninggal ketika aku baru berusia dua bulan. Menurut kisah ibuku, ayah adalah seorang petani yang sangat rajin. Ia pribadi yang pendiam tapi selalu tersenyum.

Kata ibu, dia mau menikah dengan ayah karena dipinang dengan senyuman bukan dengan kata-kata gombal. Aku sangat merindukan senyumannya tapi sayangnya dia telah pergi dimakan waktu. Ayah meninggal karena penyakit kanker otak.

Wow! Tingkatkan Kecintaan Umat Pada Kitab Suci, Relawan Komisi Kitab Suci KAK Gelar Rakor

Kepergian ayah membuatku bertanya-tanya tentang keberadaan 'Sang Pemberi' hidup. Benarkah Dia ada? Jika ada mengapa harus memanggil ayah kembali pada-Nya sebelum ayah meninabobokanku. Tapi itu hanyalah masa laluku.

Mungkin aku tak akan pernah menyesali kepergian ayah dan mengikhlaskannya, jika aku punya pekerjaan yang layak, bukan bekerja seperti yang aku jalani saat ini. Jika aku masih bekerja seperti ini, alangkah baiknya jika aku pergi cepat-cepat menyusuli ayah dan pasti aku akan bahagia bersamanya di alam baka.

RAMALAN ZODIAK BESOK Selasa 30 Juli 2019 Aries Dilematis, Cancer Ambil Keputusan Besar, Zodiak Lain?

***
Sejak kecil aku tinggal bersama ibu di sebuah gubuk reot peninggalan ayah tercinta. Ibuku bekerja sebagai penjual sayur di sebuah pasar mingguan.

Pasar ini biasanya dibuka pada hari Rabu dan Sabtu dalam seminggu. Ibu menghabiskan hari-hari yang lain untuk mencangkul tanah, menanam sayur dan merawatnya.

Daerahku adalah daerah yang sangat subur seperti sebuah lirik lagu 'tongkat dan kayu jadi tanaman'. Aku merasa iba dengan ibuku yang sering sakit-sakit tapi masih terus semangat bekerja.

Dalam hati kecilku aku selalu bermimpi untuk membahagiakan ibu dengan cara apapun. Niat itu selau menggema dalam diriku dan terbawa dalam hidup harianku, hingga aku tumbuh dewasa.

Seorang Pekerja Migran Asal Karimun Tewas di Malaysia, Diduga Dibunuh Teman Pria

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah kejenjang SMP karena keadaan ibu yang semakin parah. Sebenarnya aku tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali, tetapi karena di kampungku pendidikan sekolah dasar gratis, maka aku dipaksa ibuku untuk bersekolah, sekadar untuk bisa membaca dan menulis.

Aku bersyukur pada ibu yang memaksaku bersekolah. Seandainya aku tidak bersekolah mungkin aku adalah manusia primitif yang hidup di era modern, era serba canggih, era Milenial. Sayangnya aku skeptis dengan semuanya itu.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved