Ombudsman Imbau Masyarakat Hati-hati Memberikan Data Pribadi kepada Perusahaan, Ini Alasannya

Pihak Ombudsman Imbau masyarakat Hati-hati Memberikan Data Pribadi kepada perusahaan, Ini Alasannya

Ombudsman Imbau Masyarakat Hati-hati Memberikan Data Pribadi kepada Perusahaan, Ini Alasannya
KOMPAS/DOKUMENTASI
Keterangan penghasilan berupa slip gaji, dan rekening koran, menjadi beberapa persyaratan mengajukan kartu kredit ke bank. Oleh sebagian kalangan tenaga pemasaran, data terkait penghasilan dan rekening tabungan itu potensial diperjualbelikan untuk kepentingan pemasaran produk perbankan. 

Pihak Ombudsman Imbau masyarakat Hati-hati Memberikan Data Pribadi kepada perusahaan, Ini Alasannya

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Ombudsman mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati ketika memberikan data pribadi kepada perusahaan yang mewajibkan mengisi data diri dengan lengkap. Sebab data tersebut rentan disalahgunakan.

"Konsumen berhati-hatilah memberikan data kepada perusahaan, kita harus melihat seberapa perlu kita memberikan data tersebut," kata Anggota Ombudsman Republik Indonesia, Alvin Lie kepada Kompas.com, Sabtu (27/7/2019).

Ternyata Cara Pergi ke Tempat Kerja Pengaruhi Kesehatan Seseorang, Benarkah? Simak Beritanya

Alvin menerangkan, masyarakat yang menjadi konsumen harus lebih bijak dan cermat ketika memberikan datanya. Baik data barupa nama, nomor ponsel, alamat, nomor rekening bank, maupun data-data lainnya.

Karena jika data sudah diserahkan, maka konsumen tidak bisa berbuat apalagi dan tidak bisa melaporkannya kepada penegak hukum.

Kadis Sosial Manggarai Minta Alokasikan Dana Desa untuk Kaum Difabel

"Jangan memberikan berlebih yang sebetulnya tidak relevan dengan jasa yang diberikan keadaan kita. Kita harus selektif. Kalau kita tidak merasa nyaman ya udah enggak usah beli jasanya," ujarnya.

Dia menyampaikan, sejatinya negara harus hadir dan wajib memberikan perlindungan kepada warga negara terkait perlindungan data pribadi ini.

Celah penyalahgunaan data tersebut sangat besar karena tidak ada aturan yang mengaturnya secara spesifik.

"Saat ini tidak ada payung hukum yang melindungi data-data pribadi konsumen. Tidak ada undang-undangnya, tidak ada peraturannya, jadi data-data konsumen yang ada pada perusahaan itu dapat dengan mudah diperjualbelikan dan disalahgunakan," ungkapnya.

"Makanya negara wajib melindung data pribadi warga negara," lanjutnya.

Melihat kondisi saat ini, Alvin bahkan menyebut bahwa penyalahgunaan data pribadi konsumen sudah masuk katagori gawat darurat. Karena itu, publik diminta lebih selektif ketika hendak memberikan data pribadinya.

"(Kalau ada korban) itu mau lapor ke mana juga enggak jelas. Ke polisi, landasan undang-undangnya apa? Payung hukumnya enggak ada," ungkapnya.

"Data peribadi dan perilaku konsumen ini bagian dari biig data yang nilai ekonominya bisa menjadi tinggi, sangat besar. Sehingga sangat menggoda untuk disalahgunakan untuk. Ini bisa disalahgunakan untuk tindakan kejahatan, terorisme dan sebagainya," tambah Alvin. (Kompas.com/Murti Ali Lingga)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hati-hati Data Pribadi Anda Disalahgunakan!",

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved