Marsina Kabata: Stunting Mestnya Diatasi Sejak Dalam Kandungan

Kepala Puskesmas Puu Weri, Marsina Kabata: Stunting Mestnya Diatasi Sejak Dalam kandungan

Marsina Kabata: Stunting Mestnya Diatasi Sejak Dalam Kandungan
POS-KUPANG.COM/Petrus Piter
Kepala Puskesmas Puu Weri Sumba Barat, Marsina Kabata, SKM 

Kepala Puskesmas Puu Weri, Marsina Kabata: Stunting Mestnya Diatasi Sejak Dalam kandungan

POS-KUPANG.COM | WAIKABUBAK - Kepala Puskesmas Puu Weri, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Marsina Kabata, SKM, mengatakan, pola penanganan stunting semestinya semenjak anak berada dalam kandungan ibunya.

Karena itu sejak ibu hamil harus mengkonsumsi makanan bergisi agar anak kelak lahir sehat walafiat. Problem yang dialami masyarakat selama ini terutama ibu hamil yang hidup di kampung-kampung dengan segala keterbatasan yang dihadapi menyebabkan seorang ibu hamil mengkonsumsi apa adanya tanpa memperhitungkan makanan tersebut bergisi atau tidak bergisi.

Kasus Stunting Masih Terjadi di Nagekeo, Ini Jumlahnya

Masalah utama karena keterbatasan ekonomi. Dampaknya anak-anak lahir dengan berat badan kurang normal. Dampaknya ikutannya anak-anak juga tumbuh tidak normal karena kurang mendapat asupan makanan bergisi.

Data gisi buruk dan stunting terekam baik melalui kegiatan posyandu yang digelar setiap bulannya.

Menghadapi kondisi seperti itu, demikian Kepala Puskesmas Puu Weri, Marsina Kabata, SKM di ruang kerjanya, Kamis (25/7/2019) mengatakan, pihaknya melalui kader-kader posyandu memberikan makanan tambahan (pmt) atau makanan bergisi berupa susu formula, ikan kering, beras, garam yodium dan minyak goreng kepada anak-anak dan ibu hamil kurang gisi.

Lebu Raya Tegaskan NTT Beri Dukungan Penuh Pada Megawati Soekarnoputri

Sedangkan terhadap anak-anak yang teridentifikasi stunting, petugas membagikan biskuit. Selanjutnya petugas kesehatan melalui kader posyandu terus memantau perkembangan kondisi gisi anak dan pertumbuhan anak melalui kegiatan posyandu. Biasanya setiap bulan, saat posyandu, petugas melakukan penimbangan anak dan pengukuran tinggi badan. Idealnya setiap bulan harus ada perubahan kenaikam berat badan maupun tinggi badan.

Menurutnya, penanganan stunting dan gisi buruk harus bersamaan karena kekurangan gisi menyebabkan seorang anak kurang sehat serta tumbuh kurang normal.

Lebih lanjut dijelaskan pemberian makanan bergisi (pmt) hanya berlaku tiga kali dalam setahun. Hal itu hanya sebagai contoh agar orang tua memperhatikan anak-anaknya akan pentingnya mengkonsumsi makanan bergisi.

Bagi orang gisi, 1000 hari pertama kehidupan yang terhitung semenjak ibu mengandung hingga melahirkan harus mendapat asupan makanan bergisi. Bila itu berjalan baik maka anak lahir sehat dan tumbuh kembang normal pula. Hanya saja, fakta lapangan menujukan ada ibu hamil dengan kondisi memprihatinkan karena kurang makan makanan bergisi.

Terhadap kondisi seperti itu, pihak, pihaknya meminta yang bersangkutan datang ke puskemas untuk mendapatkan bantuan makanan bergjsi. Karena itu penanganan stunting tidak hanya kepada anak-anak tetapi harus pula kepada ibu semenjak mengandung. Dengan asupan makanan bergisi maka anak-anak lahir sehat dan tumbuh kembang normal pula.

Menambahkan, idealnya seorang anak harus mendapatkan asi selama dua tahun agar terjaga baik gisi dan pertumbuhannya.

Diakui, selama ini, pihaknya terus melakukan sosialisasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat termasuk pola makanan bergisi bagi anak-anak dan ibu hamil. Hanya saja belum semua masyarakat menjalankan dengan baik karena faktor ekonomi masyarakat terbatas pula.

Karena itu berharap desa juga perlu melakukan intervensi program penanganan gisi masyarakat agar masyarkat lebih sehat dan sejahtera.

Ia menambahkan data stunting posisi Maret-April 2019 yang dihimpun puskesmas di 13 desa dan kelurahan dalan kota Waikabubak sebanyak 67 orang terdiri Desa Beradolu 12 orang, Kelembu Kuni 11 orang, Tebara 13 orang, Kodaka 5 orang, Modu Waimaringi 2 orang dan Puumawo 4 orang, Kelurahan Pada Eweta 6 orang, Wailiang 3 orang dan Maliti 3 orang. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Petrus Piter)

Penulis: Petrus Piter
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved