Kasus Stunting Masih Terjadi di Nagekeo, Ini Jumlahnya

Kasus Stunting Masih Terjadi di Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT, Ini Jumlahnya

Kasus Stunting Masih Terjadi di Nagekeo, Ini Jumlahnya
tribun lampung
ilustrasi 

Kasus Stunting Masih Terjadi di Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT, Ini Jumlahnya

POS-KUPANG.COM | MBAY - Kasus stunting masih terjadi di Kabupaten Nagekeo. Data yang dikeluarkan oleh Kemenkes menyebutkan di Kabupaten Nagekro tahun 2017 yaitu 38 % dan tahun 2018 mencapai 39,8% kasus stunting.

"Data jumlah kasus balita stunting yaitu Tahun 2017 sebanyak 38%, Tahun 2018 sebanyak 39,8% dan Tahun 2019 masih di validasi di tingkat Puskesmas. Data ini diambil sampling dan diolah Kemenkes, tidak ada rincian per kecamatan karena ada kecamatan yang tidak kena sampling," ungkap Sekretaris Dinas Kesehatan Nagekeo, Rufus Raga, S.Si, kepada POS-KUPANG.COM, Rabu (24/7/2019).

Lebu Raya Tegaskan NTT Beri Dukungan Penuh Pada Megawati Soekarnoputri

Ia menjelaskan stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi.

Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

"Stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO," ujarnya.

HUT ke-8, TransNusa Berhasil Jangkau Toli-Toli

Ia menjelaskan selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk.

Stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.

"Untuk penanganan khusus kita belum ada kita masih fokus di gizi buruk. Tetapi upaya pencegahannya kita dengan sosialisasi 1000 hari pertama kehidupan. Kalau Gizi buruk tahun 2014 : 17 orang, tahun 2015 : 9 orang, tahun 2016 : 6 orang, tahun 2017 : 7 orang," ujar Rufus.

Ia mengatakan, tatalaksana gizi buruk adalah penanganan selama 14 hari di puskesmas dan dilanjutkan dengan makanan tambahan selama 90 hari.

"Masalah stunting adalah masalah gizi kronis yang sudah terjadi sebelumnya yang disebabkan oleh banyak faktor antara lain kemiskinan, ketersediaan pangan yang kurang, pola asuh yang keliru, sanitasi lingkungan yang buruk dan ketersediaan air bersih yang
kurang," paparnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan)

Penulis: Gordi Donofan
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved