Jefri Riwu Kore Apresiasi Program Sekolah Lapang Iklim Staklim Kupang

Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore Apresiasi Program Sekolah Lapang Iklim Staklim Kupang

Jefri Riwu Kore Apresiasi Program Sekolah Lapang Iklim Staklim Kupang
POS-KUPANG.COM/Laus Markus Goti
Suasana kegiatan panen jagung di Kolmano Kecamatan Maulafa Kota Kupang, Kamis (25/7/2019). 

Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore Apresiasi Program Sekolah Lapang Iklim Staklim Kupang

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore, memberi apresiasi kepada Stasiun Klimatologi Kupang yang telah menyelanggarakan Sekolah Lapang Iklim di Kolamanu, Kelurahan Kolhua, Kota Kupang.

Apresiasi orang nomor satu di Kota Kupang itu disampaikan melalui Plt. Assisten III Sekda Kota Kupang, Edward Jhon Pelt dalam kegiatan panen jagung di Kolmano, hasil program Sekolah Lapang Iklim.

Di Kota Kupang Hasil SLI Jagung Hibrida Lamuru Cocok di Lahan Kering dan Kondisi Air Terbatas

"Kalau kita melihat tugas pokok BMKG jauh dari kegiatan ini, tetapi di sini kita saksikan betapa pedulinya BMKG terhadap ketahanan pangan di Indonesia, di NTT dan bahkan di Kota Kupang," ungkapnya.

Oleh karena itu, Pemkot Kupang mengucapkan terima kasih kepada BMKG Stasiun Klimatologi Kupang yang telah berupaya membantu ketahanan pangan di Kota Kupang.

Wali Kota, kata Edward, sangat berharap agar para petani ke depan dapat terus mengaplikasikan pelajaran atau pemahaman dan pemanfaatan informasi iklim yang diperoleh melalui SLI tahap III tersebut.

Gegara Tunjangan Perumahan dan Transportasi, Ketua Fraksi NasDem Proses Hukum Bupati Sikka

Hasil Sekolah Lapang Iklim (SLI) IIII yang diselenggarakan oleh Stasiun Klimatologi Kupang di Kolamanu tersebut memperlihatkan bahwa varietas jagung hibrida lamuru cocok ditanam di lahan kering dengan kondisi air terbatas terutama pada musim kemarau.

Kepala Stasiun Klimatologi Kupang, Apolonaris S. Geru SP. M. Si, kepada POS-KUPANG.COM, menjelaskan, sekolah lapang iklim yang diselenggarakan Stasiun Klimatologi Kupang merupakan tindak lanjut dari Perpres no 2 tahun 2015 tentang Nawacita khusunya poin nomor 7 yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Lanjutnya Program SLI tahap III melibatkan 25 peserta petani setempat menggunakan lahan seluas 4000 m².

SLI tahap III dilaksanakan selama kurang lebih 114 hari sejak 2 April hingga 25 Juli 2019, berupa penyuluhan dan praktek lapangan.

SLI tahap III ini dilakukan sekaligus ingin mengetahui daya adaptasi dua varietas jagung (hibrida kumala dan lamuru) di lahan kering pada saat musim kemarau di mana kondisi air untuk kebutuhan tanaman sangat terbatas.

Pola penyiraman dilakukan dengan dua cara yakni sprinkle dan manual. Untuk varietas hibrida kumala dilakukan dengan penyiraman sprinkle. Sementara varietas hibrida lamuru di bagi dua, ada yang manual dan yang sprinkle.

Hasilnya, berdasarkan ubinan yang dilakukan oleh pihak Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kupang dan Dinas Pertanian, untuk varietas hibrida lamuru mencapai 7,2 ton dengan pola penyiraman manual.

Sementara varietas kumala hasilnya lebih rendah kendati menggunakan pola penyiraman sprinkle, karena varietas ini membutuhkan lebih banyak air dengan kondisi tanah yang lebih lembab.

Dengan demikian varietas jagung yang cocok untuk ditanam pada musim kemarau dengan kondisi air terbatas yaitu varietas hibrida lamuru dengan pola penyiraman manual. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved