Penderita Stunting di Kota Kupang Capai 3.462, Terbanyak dari Kecamatan Alak

Berdasarkan data tahun 2018 Dinas Kesehatan Kota Kupang, Kecamatan Alak menempati urutan pertama penderita stunting terbanyak di Kota Kupang

Penderita Stunting di Kota Kupang Capai 3.462, Terbanyak dari Kecamatan Alak
POS-KUPANG.COM/ LAUS MARKUS GOTI
Sekretaris Dinas Kota Kupang Rudi Priyono di ruang kerjanya, Rabu (2472019). 

Penderita Stunting di Kota Kupang Capai 3.462, Terbanyak dari Kecamatan Alak

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Berdasarkan data tahun 2018 Dinas Kesehatan Kota Kupang, Kecamatan Alak menempati urutan pertama penderita stunting terbanyak di Kota Kupang, yakni mencapai 1.140 orang.

Sementara jumlah seluruh penderita stunting di Kota Kupang mencapai 3. 462 atau 23,7%. "Nanti untuk tahun 2019nya kita rilis akhir tahun. Jika kita membandingkan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini jumlah penderita stunting menurun," ungkap Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Kupang, Rudi Priyono kepada POS-KUPANG.COM, di ruang kerjanya, Rabu (24/7/2019).

Menurutnya belum diketahui secara pasti mengapa penderita stunting terbanyak ada di Kecamatan Alak. "Saya kira ini perlu dilakukan studi untuk mencari tau kenapa banyak penderita stunting di Alak. Yah tentu ada macam-macam faktor, tapi untuk tau persis memang perlu dilakukan studi," ungkapnya.

Rudi menjelaskan pada tahun 2013 jumlah penderita stunting di Kota Kupang mencapai 36,7 persen dan seiring berjalan upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Kupang, Dinas Kesehatan dan berbagai stakehokder terkait sampai tahun 2018 jumlah menurun menjadi 23,7%.

Angka Stunting Di TTS mencapai 52,76 Persen

Ia mengatakan sejauh ini upaya yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan untuk mengatasi stunting antara lain, melakukan penyuluhan/sosialisasi kepada keluarga dan ibu hamil. "Penyebab utama stunting adalah gizi. Sejak janin atau bayi masih dalam kandungan, ibu hamil atau keluarga harus benar-benar memerhatikan asupan gizi bayi," ungkapnya.

Lanjutnya, untuk penanganan terhadap balita dibagi dalam dua kategori, yaitu balita normal dan balita penderita stunting. Untuk balita normal melalui pemberian makanan tambahan penyuluhan. Sedangkan balita penderita stunting melalui pemberian makanan tambahan pemulihan selama 90 hari.

Dinkes Sumba Barat Dapat Alokasi DAk Rp 750 Juta Atasi Stunting

Tidak hanya itu, lanjutnya, dilakukan pula manajemen terpadu balita sakit (MTBS) di Puskesmas-puskemas terutama untuk balita dengan penyakit penyerta. "Maksudnya si balita tidak hanya menderita stunting tapi ada penyakit-penyakit lain yang menyertai pada balita," jelasnya.

Menurutnya, ada juga program Dinas Kesehatan yaitu penggerakan masyarakat oleh lintas sektor memotivasi ibu-ibu hamil agar memeriksakan diri secara rutin ke puskesmas dan juga kepada keluarga untuk memeriksakan balita.

Tersangka Aleks Saba Kodi dan Rinto Danggaloma Praperadilkan Kapolres Sumba Barat

Rudi mengimbau masyarakat Kota Kupang, terutama ibu hamil dan keluarga rajin memeriksakan kesehatan ibu bayi dan balita. Apalagi saat ini, kata Rudi di Puskesmas ada paket pertolongan gizi, yakni pemberian Vitamin A, zat, besi, dan mineral mineral yang berfungsi sebagai zat pengatur metabolisme tubuh.

Ia juga beterima kasih kepada Pemerintah Kota Kupang yang telah berupaya mengatasi stunting dengan menggandeng Unicef.(*)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved