Kekeringan di Malaka Belum Menimbulkan Bencana

Sebanyak 11 kecamatan di Kabupaten Malaka teridentifikasi sebagai daerah rawan kekeringan. Namun sampai dengan saat ini, belum ada laporan t

Kekeringan di Malaka Belum Menimbulkan Bencana
Dion Kota
Camat Weliman, Gabriel Seran 

Laporan Reporter POS KUPANG.COM,Teni Jenahas

POS KUPANG.COM| BETUN---Sebanyak 11 kecamatan di Kabupaten Malaka teridentifikasi sebagai daerah rawan kekeringan. Namun sampai dengan saat ini, belum ada laporan tentang bencana akibat kekeringan.

Masalah klasik yang biasa terjadi saat musim kemarau adalah krisis air minum. Masalah ini sudah ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Malaka dengan mendistribusikan air bersih kepada masyarakat menggunakan mobil tangki milik Pemda yang standby di setiap kecamatan.

Hal ini dikatakan Kepala BPBD Kabupaten Malaka, Gabriel Seran saat dikonfirmasi Pos Kupang.Com, Selasa (22/7/2019).

Menurut Gabriel, ada 11 kecamatan di Kabupaten Malaka yang teridentifikasi kekeringan. Kecamatan dimaksud yakni, Kecamatan Wewiku, Weliman, Rinhat, Malaka Tengah, Kobalima, Kobalima Timur, Malaka Timur, Sasitamean, Laenmanen, Io Kufeu dan Botin Leobele.

Sedangkan kecamatan yang tidak termasuk dalam daerah rawan kekeringan adalah Malaka Barat.

Petugas BPBD sudah turun ke lokasi untuk memantau dan melihat kondisi yang terjadi di lapangan. Untuk sementara, masalah kekeringan yang terjadi saat ini belum menimbulkan bencana karena tidak ada tanaman pertanian yang kering secara meluas.

Masalah yang biasa muncul saat musim kering adalah kekurangan air bersih namun masalah ini sudah diatasi oleh pemerintah lewat pendistribusian air secara rutin kepada masyarakat menggunakan mobil tangki dari Pemda.

Sejak Nenek Moyang Warga Bhera, Sikka -NTT Andalkan Air Sungai, Ini Kondisinya

Gabriel menjelaskan, dampak dari kekeringan beberapa bulan terakhir tidak sampai merusak tanaman lahan kering dan lahan basah. Sebab, untuk lahan kering, masyarakat Malaka baru saja menyelesaikan panen musim tanam pertama dan sedang mempersiapkan lahan untuk musim tanam kedua. Begitu juga dengan lahan basah, masyarakat sedang mempersiapkan lahan untuk musim tanam kedua.

"Untuk sementara kerugian material akibat kekeringan tidak ada. Tanaman lahan kering baru abis panen dan masuk musim tanam kedua kalau lahan basah sementara penanaman. Jadi dampak terhadap tanaman belum ada, hanya kekurangan air bersih saja," kata Gabriel.

Terkait masalah kekurangan air bersih, Gabriel mengatakan, pemerintah sudah mengantisipasi dengan cara mendistribusikan air bersih menggunakan mobil pemerintah yang sudah standby di kecamatan dan dibantu lagi mobil tangki dari Dinas PUPR dan Dinas Sosial.

BPBD Kabupaten Malaka sudah melaporkan kondisi kekeringan kepada pemerintah provinsi dan pusat. Sesuai laporan dari pemerintah pusat, Pemda Malaka mendapat alokasi anggaran untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. Dalam waktu dekat pemerintah pusat akan mengundang pemerintah daerah untuk menerima DIPA terkait bencana.

Menurut Gabriel, alokasi anggaran pasca bencana tersebut diperkirakan Rp 21 M. Dana tersebut dimanfaatkan untuk perbaikan infrastruktur seperti tanggul, permukiman penduduk yang rusak dan infrastruktur lainnya yang rusak akibat bencana. (j*)

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved