Berita cerpen

Cerpen Maria Hebi: My Sweet Leprechaun

Rona langit yang makin gelap menghantarku pada peresapan kehadiran alam semesta yang tak pernah dapat ditebak arah dan musimnya.

Cerpen Maria Hebi: My Sweet Leprechaun
ilustrasi kompas.com
My Sweet Leprechaun 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Aku hanya bisa terdiam dalam sepi yang mencekam. Rona langit yang makin gelap menghantarku pada peresapan kehadiran alam semesta yang tak pernah dapat ditebak arah dan musimnya.

Dari celah jendela, angin sejuk menghempaskan titik air hujan yang mulai meruntuh.

Makin lama semakin deras dan aku hanya bisa berpasrah ketika wajahku mesti basah dan melunturkan bedak yang baru saja kupakai. Entah mengapa, aku enggan untuk beranjak.

Kimono Cardigan Yang Semakin Diminati, Tidak Saja Lifestyle Tapi Juga Menjamu Tamu

Butiran air yang mengalir dari atap seolah bercerita tentang ziarah hidup yang mesti harus dijalani. Sebuah batu karang terlihat berlubang di tengahnya oleh tetesan air hujan yang hampir sebulan ini mengguyur kampung kecilku.

Teori sederhana tentang kehidupan. Hati yang keras suatu ketika akan melunak jika terus diisi dengan kesejukan dan kelembutan. Seperti air dan karang. Dan aku teringat cerita ayah yang selalu menghiburku ketika aku sedang bersedih.

Cerita yang sudah kudengar sejak aku masih kanak-kanak, dan sampai sekarang masih terus diucapkannya ketika aku menceritakan kegelisahan dan kesedihanku.

Setiap kali kita merasa sedih, kesedihan kita naik ke langit dan menjadi awan. Awan ini bergerak jauh dan luas di atas tanah yang sunyi. Ketika saatnya tiba, ketika hidup kita bebas dari duka yang mengganggu kita, awan ini menghujani seseorang di suatu tempat.

Jadi setiap kali hujan, ingatlah bahwa seseorang di tempat yang lain dibebaskan dari kesedihan mereka. Ah, aku hanya berharap hujan sore ini akan berpindah ke tempat yang lain dan membebaskanku dari kegelisahan, tentang rasa yang terus mendera. Sebuah cinta yang tumbuh dari kedalaman nubari, cinta yang memiliki selaksa makna.

Ia terus bertunas oleh rasa yang menyiraminya siang dan malam. Tentang seorang pria yang telah meronai separuh pikiranku dan menulisi ruang di sudut hati. Tentang kebahagiaan dan realita kehidupan. Namun, masih saja ada ruang kosong yang selalu tak terjangkau, sampai dia benar-benar ada di hadapanku.

Kuraih sebuah buku hitam kecil dari dalam laci meja di kamarku. Masih dengan jendela terbuka dan dalam derasnya hujan, jemariku bergerak menulisi lafal yang secara spontan kuucapkan.

Halaman
1234
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved