Ini Kendala Vaksinasi Rabies di Kabupaten Lembata

Dinas Peternakan Kabupaten Lembata rupanya mengalami kendala di lapangan saat melakukan vaksinasi rabies.

Ini Kendala Vaksinasi Rabies di Kabupaten Lembata
POS-KUPANG.COM/ RICARDUS wAWO
Kadis Pete3rnakan Lembata Kanisius Tuaq

Ini Kendala Vaksinasi Rabies di Kabupaten Lembata

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM| LEWOLEBA- Dinas Peternakan Kabupaten Lembata rupanya mengalami kendala di lapangan saat melakukan vaksinasi rabies.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata, Kanisius Tuaq, menyebutkan kesadaran atau mindset masyarakat untuk menyerahkan anjing peliharaan mereka divaksin petugas masih rendah. Oleh karena itu, petugas terus melakukan sosialisasi pentingnya vaksinasi rabies.

Dia menuturkan dalam banyak kejadian, anjing menjadi lemas dan kelihatan kurang girang usai diberi vaksin. Itu tandanya di dalam tubuh hewan tersebut sudah ada indikasi virus rabies.

Sebab, masyarakat jangan berpikir kalau ciri-ciri anjing usai vaksin itu adalah efek samping vaksinasi. Justru ciri ciri lemas-lemas itu adalah tanda adanya potensi rabies di dalamnya.

"Kalau dia sehat-sehat saja tidak apa-apa," ungkap Kanisius di ruang kerjanya, Jumat (19/7/2019).

"Rabies ini tidak ada ampun. Kalau dia sudah kena berarti harus berangkat," tegasnya.

Kendala lainnya, menurut dia, warga juga masih enggan memberi anjing peliharaan mereka untuk divaksinasi.

Tahun 2019 Ada 994 Warga Ngada Digigit Hewan Penular Rabies

Selain itu, secara internal, tenaga petugas vaksin juga sangat minim. Sementara populasi anjing di Kabupaten Lembata sangat banyak.

Bisa menyentuh angka 25 ribu ekor untuk tahun 2019 dan vaksinasi harus dilakukan setiap tahun dengan target 80 persen dari populasi anjing.

Selama ini target 80 persen ini belum tercapai karena jangkauan ke kecamatan-kecamatan masih terbatas.

Pelatih Maung Bandung Robert Alberts Tunjuk 2 Pemain Jelang Laga PSIS Semarang, Ini Strateginya

"Pola kita selama ini pakai tim, petugas ada di setiap kecamatan tapi dikerjakan secara keroyok. Misalnya hari ini di Ile Ape, semua ke sana," katanya

"Kadang-kadang kita pergi ke rumah anjing tidak bisa ditangkap, tuan rumahnya pun tidak bisa menangkap anjingnya itu karena ada anjing yang besar sekali. Atau pada saat kita turun rumah kosong termasuk ada yang sudah dengar tapi pemilik bawa anjing ke kebun," jelasnya.
Dirinya optimistis bisa mengurangi dampak dari penyakit rabies di Kabupaten Lembata. Apalagi vaksinasi dan penanggulangan rabies sudah masuk dalam pilot project Dinas Peternakan Kabupaten Lembata.

Anjing Rabies Kepung Kota Maumere

Dari Januari sampai Juli

2019, demikian Kanisius, belum ada kasus kematian karena rabies di Kabupaten Lembata. Kalau kasus gigitan tercatat ada 4 kasus dan yang positif rabies ada 3 dan sudah ditangani.
"Kemarin baru satu lagi. Berarti sudah masuk semester kedua ini yang anak kecil itu," pungkasnya.(*)

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved