Renungan Harian

Renungan Harian Kristen Protestan Kamis 18 Juli 2019, "Apa yang Dilakukan Jika Mimpi Tak Terwujud?"

Renungan Harian Kristen Protestan Kamis 18 Juli 2019, "Apa yang Dilakukan Jika Mimpi Tak Terwujud?"

Renungan Harian Kristen Protestan Kamis 18 Juli 2019,
ist
Pdt Jehezkiel Pinat STh 

Renungan Harian Kristen Protestan Kamis 18 Juli 2019
Oleh: Pdt Jehezkiel Pinat STh (Pendeta GMIT Baitel Bokong Takari dan Mahasiswi Pasca Sarjana UKAW)
--

Apakah yang Dilakukan Seorang Pemimpin Jika Mimpi-mimpinya Tidak Terwujud?

Nabi Musa adalah salah nabi terbesar Israel yang membawa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Mimpi terbesar Musa adalah menuntaskan misinya membawa masuk bangsa Israel ke tanah Perjanjian yang berlimpah susu dan madu yakni tanah Kanaan.

Namun harapan dan mimpi Musa ini tidak terwujud oleh karena perbuatan dosa yang dilakukann karena ia tidak dapat mengendalikan emosi ketika harus berhadapan dengan sikap kepala batu Israel yang suka bersungut-sungut jika ada masalah.

Musa tidak dijinkan masuk tanah Perjanjian karena dianggap tidak taat dan tidak menjaga kekudusan Tuhan (Bilangan 20:12 dan Ulangan 32:51).

Apakah dengan tidak dijinkannya Musa memasuki tanah Perjanjian membuat Musa putus asa dan berhenti menjadi nabi Tuhan dan berhenti menjadi pemimpin Israel?  Harold Samuel Kushner memberi jawaban yang menarik. Kita justru harus belajar dari Nabi Musa, belajar dari contoh seorang pemimpin yang tetap mempersiapkan penggantinya dengan baik walaupun mimpi-mimpinya tidak menjadi kenyataan.

Dalam bukunya yang berjudul “Ketika Mimpi-Mimpi Tak Terwujud”, yang diterbitkan BPK Gunung Mulia tahun 2008, setebal 183 halaman itu, Kushner memberikan langkah-langkah untuk mengatasi hal tersebut berdasarkan pengalaman kepemimpinan Musa dalam memimpin umat Israel menuju ke negeri perjanjian yang diuraikan dalam 8 bab.

Pada bab pertama Harold memulai dengan tema manusia yang berani bermimpi. Ada tiga kelompok manusia yakni berani bermimpi walaupun mereka sadar banyak impian mereka yang tak akan terpenuhi, bermimpi dengan lebih sederhana dan merasa takut kalau impian mereka mereka yang paling sederhana itu mungkin tidak terpenuhi, mereka yang sama sekali takut untuk bermimpi karena takut dikecewakan (hal 1).

Seorang pemimpin adalah mereka yang mampu melihat penderitaan dan bermimpi untuk membebaskan (hal 7).  Tantangan dari seseorang untuk memulai simpati untuk membebaskan adalah penolakan dan sikap tidak tahu berterima kasih dari yang hendak ditolong (hal. 9). Belajar untuk mengalami kekecewaan, frustasi dan nilai yang harus dibayar karena peran dan tanggungjawabnya sebagai seorang pemimpin.

Hal kedua adalah menyampaikan atau memberi tahu orang-orang hal-hal yang tidak mereka sukai (hal 12). Dalam posisi tersebut harus ada sebuah kesadaran bahwa Tuhan adalah sumber kekuatan untuk memampukan orang mampu menghadapi peristiwa di luar jangkauan kekuatan kendali mereka (hal. 14).

Halaman
1234
Editor: Eflin Rote
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved