BNN Harapkan Pemerintah Proaktif Sosialisasi ke Remaja 9 Wilayah NTT Zona Merah Rawan Narkoba

BNN Harapkan Pemerintah Proaktif Sosialisasi ke Kalangan Remaja 9 Wilayah NTT Zona Merah Rawan Narkoba

BNN Harapkan Pemerintah Proaktif Sosialisasi ke Remaja 9 Wilayah NTT Zona Merah Rawan Narkoba
POS KUPANG/RYAN NONG
Kasie Pencegahan BID P2M BNN Provinsi NTT, Markus Raga Djara, SH, MHum. 

BNN Harapkan Pemerintah Proaktif Sosialisasi ke Kalangan Remaja 9 Wilayah NTT Zona Merah Rawan Narkoba

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Sebanyak sembilan wilayah kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur masuk dalam kategori sebagai daerah atau wilayah zona merah rawan peredaran narkoba.

Wilayah tersebut terdiri dari tiga kabupaten di Pulau Flores, tiga kabupaten di Pulau Timor,dua kabupaten di Pulau Sumba serta kabupaten Alor.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala BNNP NTT melalui  Kasie Pencegahan BID P2M Markus Raga Djara, SH, MHum.

Kepada POS-KUPANG.COM pada Selasa (16/7/2019), Markus menjelaskan, sembilan wilayah kabupaten tersebut rentan dan telah menjadi zona merah rawan narkoba karena faktor menjadi pintu masuk ke NTT.

"Zona Merah rawan narkoba dari daratan Flores mulai dari Manggarai barat, Sikka dan Lembata. Kemudian Kota Kupang, TTU, Belu dan Alor. Juga Sumba timur dan Sumba barat Daya," urainya.

Ia mengatakan, sebagai daerah yang berhubungan langsung dengan luar, kabupaten kabupaten tersebut telah menjadi pintu masuk peredaran narkoba dari luar NTT baik dari Jawa, Bali maupun Makasar.

Ia menjelaskan, pihaknya berharap agar Pemerintah Daerah memiliki kepedulian dalam hal penangkalan dan pencegahan pengaruh dan peredaran barang haram ini terhadap kalangan remaja. Pasalnya, hampir semua kabupaten di NTT belum memiliki program khusus terkait narkoba, terutama untuk proses pencegahan paparan kepada remaja dan orang muda.

"Hampir semua kabupaten kota di NTT ini yang memiliki program tentang narkoba, kecuali Sumba Tengah, itu kota turun di dua kecamatan untuk sosialisasi di SMA," jelasnya.

Ia menjelaskan, jika setiap pemerintah daerah memiliki program pencegahan narkoba yang terintegrasi maka akan memudahkan para remaja atau orang muda untuk mengetahui bahaya narkoba lebih dini sehingga memiliki peluang untuk tidak berhubungan atau menggunakan narkoba.  

"Sasaran remaja memiliki jiwa dan komitmen yang kuat untuk menolak narkoba, saya yakin 100 persen jika mereka telah dibekali  terus menerus maka mereka akan menolak dan tidak menggunakan narkoba terutama karena berbahaya bagi kesehatan, karir dan masa depan mereka," katanya.

Kasus Penggelembungan Suara Pileg 2019, Pengadilan Tinggi NTT Tolak Banding Jaksa

Penyuluh Agama Ujung Tombak Pelayanan Kementrian Agama

Anggota Satgas dan Kodim 1618/TTU Bantu Bagi Air Bersih Gratis untuk Warga di Perbatasan

BNNP NTT, lanjut Markus berharap dinas pendidikan proaktif untuk mengintegrasikan program dan semangat untuk menolak narkoba dalam setiap kegiatan sekolah atau ekstra. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong)

Penulis: Ryan Nong
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved