Pengaruh Negatif Medsos Jadi Penyebab Pencabulan, Yuk Simak!

pola pengawasan dan pembinaan anaknya dalam menggunakan HP biasanya lewat anaknya lebih dewasa.

Pengaruh Negatif Medsos Jadi Penyebab Pencabulan, Yuk Simak!
POS KUPANG/TENY JENAHAS
Kasat Reskrim AKP Ardyan Yudho Setiantono 

Pengaruh Negatif Medsos Jadi Penyebab Pencabulan, Yuk Simak!

POS KUPANG.COM| ATAMBUA---Berdasarkan penyelidikan polisi di Polres Belu bahwa rata-rata kasus pencabulan terjadi berawal dari pacaran atau suka sama suka. Pergaulan anak yang kurang dikontrol orangtua memicu banyak kasus pencabulan.

Selain itu, hal negatif dari penggunaan media sosial juga bisa memicu terjadinya kasus pencabulan.

Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing melalui Kasat Reskrim AKP Ardyan Yudho Setiantono mengatakan hal itu saat dikonfirmasi Pos Kupang.Com, Senin (8/7/2019).

Menurut Yudo, sampai dengan Juni 2019, penyidik Polres Belu sudah menangani 32 kasus pencabulan terhadap anak dibawa umur. Kasus-kasus tersebut ada yang sudah tuntas proses hukumnya dan ada juga yang masih dalam penyidikan.

Dari penyelidikan polisi, penyebab utama kasus pencabulan adalah pacaran. Antara pelaku dan korban berawal dengan pacaran atau suka sama suka kemudian berbuntut pencabulan.

Kasus pencabulan juga terjadi karena dampak negatif dari penggunaan media sosial.

Terkait dengan masalah ini, polisi menghimbau kepada masyarakat khususnya orangtua agar selalu mengawasi anaknya dalam pergaulan. Kemudian mengecek kembali apabila anak menggunakan sosial media (sosmed) karena pengaruh-pengaruh negatif juga ditularkan melalui sosial media (medsos).

Orangtua murid di Kabupaten Malaka, Gabriel Nahak setuju jika ada aturan yang melarang siswa dan siswi membawa handphone ke sekolah. Sebab larangan dari sekolah itu akan memperkuat orangtua dalam mendidik dan membina anaknya soal penggunaan handphone.

Hal itu dikatakan Gabriel Nahak kepada Pos Kupang.Com saat ditemui Senin (8/7/2019). Katanya, ada anak yang sedikit melawan atau keras kepala ketika orangtuanya memberi larangan. Tetapi ketika ada larangan dari sekolah maka akan lebih baik serta memperkuat orangtua dalam mendidik dan membina anaknya.

Menurut Nahak, di era modern saat ini, alat komunikasi seperti handphone tidak hanya dimiliki orang dewasa tetapi juga anak-anak sekolah yang masih di bawah umur sudah memilikinya.

Keberadaan handphone ini memang sangat baik sebagai alat komunikasi ketika suatu waktu orangtua ingin menanyakan keberadaan atau kondisi anaknya di luar rumah. Namun di sisi lain, anak-anak yang memiliki HP justru membuat mereka malas belajar.

Bagi Gabriel, pola pengawasan dan pembinaan anaknya dalam menggunakan HP biasanya lewat anaknya lebih dewasa.

Lewat Facebook, Pria Ini Tawarkan Istri untuk Seks Bertiga Bertarif Rp 2 Juta,Tangkap Saat Telanjang

Kementerian Pariwisata Inisiasi Percepatan Pengembangan Pariwisata di NTT

Diduga Terlepas dari Ikatan Saat Musibah Kapal, Siswa SMKN Larantuka Belum Ditemukan

RM BTS Ternyata Memotret Lumba-lumba di Langit, Fenomena Alam Langka, Awalnya Disangka Awan Biasa

"Kami di rumah ada dia punya kakak yang biasa kasih tegur dan periksa hp mereka. Kalau mereka main hp terus kakaknya tegur supaya stop main hp,"ungkap Gabriel. (Laporan Reporter POS KUPANG.COM,Teni Jenahas).

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved