Berita Cerpen

Cerpen Betrix Aran: Ibu dan Sajak-Sajak Kematian

Ibu berkata demikian, sehari sebelum kematiannya, dan saat kematiannya adalah saat melepaskan nafas dari tubuh.

Ilustrasi/naoncing.com
Ibu dan Sajak-Sajak Kematian 

Nama Maria disebut paling dahulu dalam daftar kejuaraan.
"Horee..horee." Teriak Maria kegiarangan. Maria memberanikan diri membaca sajak yang ditulisnya untuk ibu.

Izinkan aku menyebut namamu, ibu dan membaca sajak-sajak kematianmu.
Ibu, aku anakmu. Sajak kematian ini kutulis saat hendak melepasmu.

Ibu...
Bukan kematian yang kurindukan, melainkan sosokmu.
Katamu, rindu yang paling teduh adalah doa. Doa-doa itu telah patah.
Ingin kuteguk kembali air susu tubuhmu, karena aku tidak ingin berlalu dari pelukanmu.

Ibu..
Saat kematian itu tiba, aku ingin menjadi onggokan batu yang
melindungi tubuhmu dari rayap dan waktu yang tak berperasaan.

Ibu...
Apakah ayah sungguh mencintaimu? Apakah ayah begitu membenci kami?
Mengapa ayah ingin hadirmu?
Mengapa harus kami yang kau tinggalkan?

Ibu...
Jika kejujuran adalah jawaban. Aku ingin hidup dalam kematianmu, agar bersamamu aku bisa merasakan kebahagiaan.

Ibu...
Masih terlalu pagi. Sampaikan salam kami kepada ayah dan Tuhanmu.

Maria
***

Ini Sektor-Sektor yang Mendorong Perekonomian Provinsi NTT

Semua yang mendengarkan, mencucurkan air mata. Mereka
hanyalah yatim piatu yang kini hidup dari belas kasihan orang lain.

Tiba-tiba, Samuel muncul entah dari mana, membawakan kado sebagai hadiah kejuaraan yang diperoleh Maria.

"Terima kasih kakak, terima kasih ibu, terima kasih ayah," Maria memeluk erat tubuh Samuel.

"Ibu dan ayah tidak pergi hanya mati karena waktu. Ibu dan ayah selalu ada di sini, di dalam hati," kata-kata Samuel membuat Maria tersenyum ringan. Maria pun berjabatan tangan dengan dewan juri dan semua guru, karena berkat motivasi guru akhirnya Maria memperoleh kejuaraan.

Semua siswa-siswi diarahakn untuk berkumpul di halaman sekolah. Guru memberitahukan bahwa akan ada perlombaan selanjutnya. Maria dan sahabat-sahabatnya selalu berjanji untuk mengikuti perlombaan itu dengan penuh sukacita.

Kepergian ibu dan ayah justru mengubah kekecewaan,
kegagalan menjadi kesuksesan dan kebahagiaan. Berkat bekerja menjadi buruh pelabuhan, Samuel menyekolahkan adik-adiknya dan mewujudkan harapan kedua orang tuanya yang telah tiada.

Polres TTS Lidik Dugaan Korupsi Dana Kapitasi Dinkes TTS

Ia telah menjadi kakak sekaligus ayah dan ibu bagi adik-adiknya. Hidup bukan dongeng yang selalu berawal dan berakhir bahagia. Hidup adalah hidup yang terus diperjuangkan. Gagal coba lagi, jatuh dan bangun lagi. Samuel pun
demikian.
(Penulis adalah anggota Agupena, Staf pengajar SMPN 1 Wulanggitang, mencintai sastra sejak masih di perguruan tinggi).

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved