Berita Cerpen

Cerpen Betrix Aran: Ibu dan Sajak-Sajak Kematian

Ibu berkata demikian, sehari sebelum kematiannya, dan saat kematiannya adalah saat melepaskan nafas dari tubuh.

Cerpen Betrix Aran: Ibu dan Sajak-Sajak Kematian
Ilustrasi/naoncing.com
Ibu dan Sajak-Sajak Kematian 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - "KAMU harus tahu, nak. Hidup dan cinta adalah dua hal yang cukup berseberangan. Dan, itulah yang menjadi alasan mengapa ibumu pada detik-detik kematian, masih menegaskannya kepadamu."

Ibu berkata demikian, sehari sebelum kematiannya, dan saat
kematiannya adalah saat melepaskan nafas dari tubuh dengan posisi tidak berdaya.

Samuel berteriak keras dengan suaranya yang nyaris
berbarengan dengan suara pukulan tangan di tepi meja. Semasa hidupnya, ibu menyapanya dengan nada yang lemah-lembut, tak pernah tangannya mengenai tubuh Samuel.

Saat Tidur, HP Timotius Raib dari Saku Celananya, Begini Kornologinya

Semarah dan sebenci apapun. Sampai Samuel kehilangan cara untuk membencinya. Lelaki jangkung, berwajah bulat itu, benar-benar larut dalam kesedihan, namun ia terus berjuang untuk menetralisir keadaan itu.

Adik-adiknya turut menyaksikan. Betapa mereka mencintai ibu setelah kepergian ayah.

Samuel bertekad akan menuliskan kisah kelam keluarganya dalam diary dan tidak ingin membiarkan kisah itu berlalu tanpa ada jalan keluar.

Wasiat terakhir mendiang ibu, selalu diingat. Kata-kata yang keluar dari mulut sang ibu membuatnya bangga dan semakin berani menjalani kenyataan hidup.

Sang ayah telah meninggalkan ibu dan keluarga lima
tahun silam. Kini, giliran ibu beralih ke pangkuan ayah.

Suatu ketika, jenazah ibu hendak dibaringkan dalam
kuburan, dengan blak-blakan, Mila, tetangga sebelah rumah menyindirnya.

Bagi Samuel, apa yang dikatakan oleh orang-orang adalah motivasi tersendiri bagi dirinya.

Halaman
1234
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved