Dominikus Demon: ASN yang Sukses Sebagai Pebisnis Kopi di Lembata

Dominikus Demon sudah berusia 47 tahun dan masih aktif bekerja sebagai pegawai negeri sipil di salah satu instansi di Kabupaten Lembata.

Dominikus Demon: ASN yang Sukses Sebagai Pebisnis Kopi di Lembata
istimewa
ilustrasi- Kopi Leworok Desa Leraboleng Kecamatan Tite Hena 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM-KUPANG-Dominikus Demon sudah berusia 47 tahun dan masih aktif bekerja sebagai pegawai negeri sipil di salah satu instansi di Kabupaten Lembata.

Bekerja sebagai abdi negara tak membuat mimpinya mengembangkan kopi asli Lembata musnah begitu saja. Kini, sejak tahun 2015, bersama istrinya, Fransiska Tuto (46), Dominikus fokus melebarkan sayap bisnis kopi yang dia beri label Kopi Bana.

Dijual dengan harga Rp100 ribu satu kilo, kopi robusta yang masih diolah dari dapur rumah ini sudah menarik perhatian beberapa pelanggan tetap di Kota Lewoleba. Misalnya saja, Hotel Palm Indah, Lembata Indah, Hotel Anissa, UD Bangun Jaya, Toko YT, Toko 51 dan sejumlah pejabat daerah. Kenikmatan Kopi Bana tersebar hanya dari mulut ke mulut. Tiga varian jadi andalan kopi yang sudah mendapatkan izin BPOM ini yaitu kopi biasa, kopi jahe dan gingseng (sementara uji coba)

Ditemui di kediamannya di Jalan Solavide, Kelurahan Selandoro, Kecamatan Nubatukan, Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Minggu (7/7/2019), bapak satu orang anak ini sedang sibuk memilah dan memilih biji kopi terbaik. Biji kopi ini dia dapatkan dari para petani kopi di Desa Baolangu, Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata. Biasanya dia membeli satu karung biji kopi dengan kisaran harga Rp1 juta sampai Rp1,5 juta.

"Hari Sabtu dan Minggu itu kami total untuk olah kopi. Kalau Senin sampai Jumat, kami bagi waktu saja dengan kerja di kantor," kata Dominikus yang iatrinya juga adalah seorang abdi negara di Kantor Kelurahan.

Menurut dia, kopi adalah minuman yang unik. Rasa kopi tak hanya ditentukan dari bagaimana dan siapa yang menyeduhnya, tapi ditentukan mulai dari proses kopi itu dipetik. Semua proses itu menentukan bagaimana rasa kopi itu saat menyentuh lidah penikmat.

BREAKING NEWS: Anita Bocah 9 Tahun Terperosot dan Tenggelam di Muara Pota Saat Cari Siput

"Yang seduh kopi juga apakah dia tulus atau tidak, itu juga menentukan rasa kopi," tegas Dominikus.

Dominikus bukan kali ini saja membuka usaha. Sebelum bergelut dengan biji kopi. Dia telah sukses beternak ayam potong pada 2004-2009 dan sempat menjadi salah satu pemasok ayam terbesar di Kota Lewoleba. Dengan jumlah ayam mencapai 5000 ekor, praktis hampir semua rumah makan di kota itu mendapatkan stok ayam darinya.

Namun sayang, bisnis menjanjikan ini kolaps karena dirinya harus melanjutkan pendidikan sarjana di Kota Kupang selama dua tahun.

Seakan tak mau duduk berpangku kaki, bersama sang istri, Dominikus, di sela-sela kesibukannya kuliah, masih sempat berbisnis ikan lele yang dipasok ke sejumlah rumah makan di Kota Kupang.

Jiwa bisnis ini, demikian Dominikus, akan dia wariskan kepada anak semata wayangnya Maria Osetuto yang masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Walau belum bisa meracik kopi seperti orangtuanya, Maria sudah sering membantu mengantarkan Kopi Bana ke beberapa pelanggan di Kota Lewoleba.

Dominikus berencana mengirim anaknya melanjutkan kuliah ekonomi bisnis di Kota Kupang. Dominikus sudah sampaikan kepada anaknya bahwa sebagai orangtua dirinya hanya akan membayar uang kuliah dan asrama di tahun pertama saja. Sisanya, Maria harus mandiri mencari uang dengan produk Kopi Bana di Kupang.

"Dia juga nanti akan jadi distributor di sana."
Hal ini dilakukannya guna menanamkan kemandirian dan semangat wiraswasta kepada anaknya. Sebab kelak, lanjutnya, produk Kopi Bana ini akan terus dilestarikan oleh anaknya itu. (8)

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved