Soal Jiplak Tenun Ikat, Wayan Darmawa : Cukup Berdampak Bagi Pariwisata

adanya penjiplakan terhadap karya tenun ikat asal Sumba ,NTT sangat berdampak juga pada sektor pariwisata.

Soal Jiplak Tenun Ikat, Wayan Darmawa : Cukup Berdampak Bagi Pariwisata
POS KUPANG/DOK
POS KUPANG/DOK Kepala Bapeda NTT, Ir. I Wayan Darmawa 

Soal Jiplak Tenun Ikat - Wayan Darmawa : Cukup Berdampak Bagi Pariwisata

POS-KUPANG.COM|KUPANG -- "Adanya praktik jiplak atau meniru motif tenun ikat NTT tentu mempunyai dampak yang cukup besar. Dampaknya itu bisa dilihat dari beberapa aspek antara lain soal kepercayaan wisatawan terhadap motif daerah NTT," .

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Ir. Wayan Darmawa,M.T saat dihubungi POS-KUPANG.COM, Senin (1/7/2019).

Menurut Wayan, adanya penjiplakan terhadap karya tenun ikat asal Sumba ,NTT sangat berdampak juga pada sektor pariwisata.

Rambu Ana, sedang menenun kain motif sumba timur, Minggu (30/6/2019).
Rambu Ana, sedang menenun kain motif sumba timur, Minggu (30/6/2019). (POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO)

Dijelaskan, penipuan sistematis yang dilegalkan terhadap kekayaan warisan leluhur akan berdampak secara nasional, karena wisatawan menjadi ragu atas karya hebat dan unik dari masing-masing anak daerah kedepan.

"Membangun pariwisata harus dengan aras yang jelas, yaitu perpaduan antara budaya dan ekonomi, dan dalam budaya lekat dengan penghargaan nilai, rasa kecintaan dan kejujuran," katanya.

35 Personel Polres Ngada Terima Kenaikan Pangkat

Leo Diaz Senang Anaknya Diterima di SMA Negeri 1 Kefamenanu

Cari Pasangan Kawin, Seekor Komodo Malah Masuk ke Toilet Warga, Berhasil Dievakuasi BBKSDA

Karena itu, lanjut Wayan, produk budaya mendapat nilai ekonomi oleh wisatawan.

Bahkan, dampak lain, yakni praktek ilegal mengakui kekayaan daerah ditengah kekosongan legalitas atas hak intelektual sesama anak bangsa adalah kesesatan ekonomi semata.

Ketua Komisi V DPRD NTT, Jimmi Sianto memantau dari dekat proses pembuatan sarung tenun ikat bermotif adat Sumba di Kampung Raja  Prailiu, Sumba Timur,Kamis (2352019
Ketua Komisi V DPRD NTT, Jimmi Sianto memantau dari dekat proses pembuatan sarung tenun ikat bermotif adat Sumba di Kampung Raja Prailiu, Sumba Timur,Kamis (2352019 (Istimewa)

"Kesesatan ekonomi ini tanpa rasa hormat atas karya dan nilai yang dikandung dari produk budaya yang telah eksis dalam rentang waktu yang panjang. Karya-karya seperti itu selayaknya diboikot oleh pencinta produk-produk budaya karena tidak layak digunakan orang berkarakter," katanya.

Untuk itu ,kata Wayan, kehebatan tenun ikat NTT boleh ditiru dan dijiplak petorangan atau daerah tertentu, tapi jika ingin yang asli hanya ada di NTT.

Coki Manurung Daftar Calon Pimpinan KPK, ICW Soroti 9 Jenderal Polri Belum Laporkan Daftar Kekayaan

Ashanty Digugat Rp 9,4 Miliar oleh Rekan Bisnisnya, Istri Anang Hermansyah Ini Kebingungan

ZODIAK HARI INI! Ramalan Zodiak Hari Ini Selasa 2 Juli, Taurus Pragmatis, Gemini Terbukalah

"Umumnya yang imitasi atau jiplakan hanya tenar sesaat. Karena itu, kita tetap pertahankan keaslian produk-produk kita," ujarnya.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved