Penjual Ikan dan Sayur di TPI Maumere Diduga Hanya Obyek Politik Sesaat

Yani Making, anggota Fraksi Nasdem mengritik kebijakan Bupati Sikka menjadikan pasar pagi terbatas di TPI dan membuka portal di Pasar Alok

Penjual Ikan  dan Sayur di TPI  Maumere Diduga Hanya Obyek Politik  Sesaat
POS-KUPANG.COM/ Eginius Moa
Pengecer ikan basah menggelar jualan di halaman kantor DPRD Sikka,Kota Maumere, Pulau Flores, Selasa (272019). 

Penjual Ikan  dan Sayur di TPI  Maumere Diduga Hanya Obyek Politik  Sesaat  

POS-KUPANG.COM | MAUMERE- Dibubarkan  pasar pagi  terbatas di  TPI Maumere,  Pulau  Flores,  Senin  (1/7/2019)  pagi dan  direlokasi  puluhan  pedagang  ke  Pasar Alok dan Pasar  Tingkat, ibarat bola liar menggelinding  tak tentu menuntut perhatian.

Puluhan penjual  ikan dan sayur, Selasa  (2/7/2019) pagi mendatangi  Kantor Bupati  Sikka  di Jalan Ahamd Yani. Gagal melakukan  dialog,  para penjual diarahkan bertemu  DPRD Sikka.  Tanda  protes,   penjual   menggelar ikan basah  dan bumbu  dapur di  halaman  kantor.

Wakil  Ketua   DPRD Sikka, Donatus   David, dan  Merison Botu, bersama   anggota dewan  menerima  utusan para  penjual di  ruang  Kula Babong.

Pedagang Ikan dan Sayur di Borong Jualan di Jalan Negara

Yani Making, anggota  Fraksi  Nasdem  mengritik  kebijakan  Bupati  Sikka  menjadikan  pasar  pagi terbatas  di TPI dan  membuka  portal di Pasar  Alok  hanya  untuk  memenuhi  janji  kampanye Pemilukada  2018.

“Jangan  jadikan TPI  obyek politik. Pasar pagi  terbatas  kebijakan   bupati  tanpa libatkan  DPRD. Setelah ditutup,penjual ribut disuruh ketemu  DPRD. Kalau  tahun  lalu  tidak  bikin  pasar  pagi  terbatas, tidak  muncul masalah,” kecam Yani  Making.

Fabi Toa, dari Fraksi  Gerindra  sepakat pasar  pagi terbatas  diresmikan  28 September  2019  dan  buka portal di Pasar  Alok,  21 September 2018 memenuhi  janji  politik kampanye  Pilkada  2018. DPRD  Sikka, kata  Fabianus tidak diajak diskusikan,  namun ketika muncul masalah  diarahkan  ke  DPRD.

Tak Mampu Cicil Bunga Harian ke Rentenir, Penjual Ikan TPI Maumere Ngumpet di Rumah

“Kebijakan dibuat    tanpa kajian  hasilnya  begini. Sebentar buka sebentar tutup.  Dulu  dia  (bupati)  yang buka pasar, sekarang ditutup  muncul  masalah  suruh  ketemu  DPRD,”  kata  Fabianus.

Fabianus   mendesak  pemerintahmengembalikan  TPI  kepada  hakekat fungsinya, bukan  menjadikan  pasar.

Ketua  Fraksi  Partai  Demokrat, Heni Doing, minta  Bupati  Sikka tidak  cuci  tangan  melemparkan masalah penjual ikan dan sayur  mengadu ke DPRD Sikka.  Ia  menilai  pembubaran pasar  pagi  terbatas  tidak diikuti penyiapan tempat  bagi  penjual ikan dan sayur,  sehingga muncul  masalah  setelah pasar pagi ditutup.

“Jangan  cuci  tangan seperti itu. Enaknya di  kamu, buruknya  kasih  ke orang lain. Bupati  yang mau buka dan tutup lagi, bukan   DPRD,”  tandas  Heni Doing.

Ketua Fraksi  PDIP, Darius Evensius mengatakan  dibubarkan pasar pagi terbatas  membuktikan  kebijakan ini salah.

Wabub Sumba Barat Daya Targetkan Sebelum 8 Septmber 2019, Tertibkan Pedagang Pasar Rada Mata

“Semestinya  jangan  tanya ke kami.  Tanyakan kepada  bupati.Jangan pertentangkan DPRD dengan  penjual. Kebijakan  bupati sendiri,  ketika muncul masalah diarahkan ketemu  DPRD,” kata Evensius.

Ketua  Fraksi  PAN,  Philips Fransiskus mengatakan,   lompatan kebijakan menaikkan pendapatan daerah  yang tidak dikaji matang menghasilkan kebijakan ilegal mengorbankan rakyat.

 Penjualan  ikan dan sayur  korban  kebijakan tidak  matang. Inilah wajah  Kabupaten  Sikka  hari-hari ini,” tandas Philips. (laporan wartawan pos-kupang.com, eginius mo’a)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved