Warga Sekitar Bendungan Rotiklot-Belu Kesulitan Air Minum Bersih

Selain air minum, masyarakat juga tidak bisa mengelola semua lahan pertanian sawah akibat kekurangan air.

Warga Sekitar Bendungan Rotiklot-Belu Kesulitan Air Minum Bersih
pos kupang/teny jenahas
Kepala Desa Fatuketi Markus Y. Taus

Warga Sekitar Bendungan Rotiklot-Belu Kesulitan Air Minum Bersih

POS KUPANG.COM| ATAMBUA----Warga Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu yang dekat dengan Bendungan Rotiklot mengkeluhkan kekurangan air minum bersih saat musim kemarau.

Bagi masyarakat di desa ini, masalah krisis air minum saat musim kemarau sudah menjadi masalah
utama yang sampai saat ini belum teratasi.

Selain air minum, masyarakat juga tidak bisa mengelola semua lahan pertanian sawah akibat kekurangan air.

Masalah utama masyarakat di desa yang sudah dua kali dikunjungi Presiden RI Joko Widodo ini bisa teratasi apabila bendungan Rotiklot sudah dimanfaatkan.

Presiden Jokowi Kebanjiran Ucapan Selamat dan Dapat Permen dari Donald Trump di KTT G-20

BREAKING NEWS: 10 Pejabat di Sikka Diperiksa Kejaksaan Agung RI

OJK Putuskan Enam Sanksi Kasus PT Garuda Indonesia

Namum sampai saat ini, bendungan Rotiklot belum bisa dimanfaatkan, baik untuk memenuhi kebutuhan air minum maupun irigasi sehingga masyarakat masih mengalami kesulitan air.

Hal itu dikatakan Kepala Desa Fatuketi, Markus Y. Taus
kepada Pos Kupang.Com, Jumat (28/6/2019). Dikatakannya, memasuki musim kemarau panjang, masayarakat mengalami kendala air minum bersih. Apalagi air baku yang sebelum pembangunan bendungan Rotiklot mereka biasa pakai, kini sudah tidak bisa lagi karena sudah dibendung.

Masyarakat dan pemerintah desa mengharapkan agar pembangunan irigasi dan jaringan perpipaan air minum dari Rotiklot dipercepat sehingga masyarakat sudah bisa memanfaatkan airnya.

"Kita harap pembangunan irigasi dari Bendungan Rotiklot dipercepat. Kalau semuanya sudah dimanfaatkan maka kebutuhan air minum di Desa Fatuketi terpenuhi semua," kata Markus.

Menurut Markus, luas lahan pertanian basah di Desa Fatuketi mencapai 250 hektare. Di musim hujan, petani bisa mengelola semua lahan, sedangkan pada musim kemarau hanya sekitar 100 hektare lahan sawah yang digarap. Selain lahan basah, desa ini memiliki lahan kering seluas 40 hektare. (Laporan Reporter POS KUPANG.COM,Teni Jenahas).

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved