Mengintip Keseruan Festival Epo Wewa Belen, Salah Satunya Melestarikan Laut Dengan 'Muro'

Mengintip Keseruan Festival Epo Wewa Belen, Salah Satunya Melestarikan Laut Dengan Muro

Mengintip Keseruan Festival Epo Wewa Belen, Salah Satunya Melestarikan Laut Dengan 'Muro'
POS KUPANG.COM/RICKO WAWO
Ketua adat sedang melakukan ritual adat tanda dibukanya kawasan Muro di Pantai Ohe, Desa Kolontobo, Kecamatan Ile Ape, Kamis (27/6/2019) 

Mengintip Keseruan Festival Epo Wewa Belen, Salah Satunya Melestarikan Laut Dengan Muro

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Lembaga Pengembangan Masyarakat Lembata ( Barakat) telah memilih kelompok masyarakat adat pengawas laut dari lima desa di Kabupaten Lembata yakni Desa Lamatokan (Ile Ape Timur), Desa Lamawolo (Ile Ape Timur), Desa Dikesare (Lebatukan), Tapobaran (Lebatukan), dan Kolontobo (Ile Ape).

Perwakilan kelompok masyarakat adat ini akan diberi pelatihan dan bimbingan teknis untuk menjaga keselamatan pantai dan laut.

Halaman Belakang Kantor DPRD TTU Jadi Tempat Ikat Sapi

Dasar dari pembentukan kelompok ini pun berasal dari kearifan lokal yang telah lama hilang. Namun kini ingin dihidupkan lagi.

Festival Epo Wewa Belen berupa pagelaran seni dan budaya serta balap motor trail di Desa Kolontobo, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata jadi momen dimulainya revitalisasi kearifan lokal yang oleh masyarakat Lembata disebut Muro.

Sumpah adat pun dilakukan di tepi pantai Ohe, Kolontobo sebagai tanda kawasan laut itu masuk kawasan muro. Salah satu tugas terpenting dari masyarakat adat yang sudah dipilih ini atau disebut Kapitan Sari Lewa adalah menjaga kawasan muro dari praktek penangkapan ikan yang merusak biota laut.

Ketua PHRI NTT Lantik Pengurus PHRI Sumba Barat Daya, Ini Pesannya

Benediktus Bedil, Direktur Barakat menjelaskan muro adalah suatu kawasan di laut yang dijaga oleh masyarakat adat.

Manfaat dari muro ini sangat luar biasa seperti menjaga supaya jumlah ikan tetap banyak di laut, penangkapan ikan lebih dekat, dan menjaga kelestarian alam karena tidak ada satu orang pun yang sembarangan menangkap ikan di kawasan muro.

Nilai lainnya adalah nilai solidaritas sosial. Dahulu kala, ketika kawasan muro dibuka, pada tiap bulan Oktober masyarakat dari wilayah pegunungan akan datang dan bersama-sama warga pesisir menikmati hasil tangkapan ikan di kawasan muro. Hasil kebun dari wilayah pegunungan pun turut dihidangkan di sana.

"Ikan sisa dibawa pulang ke gunung, lalu mereka yang di pantai itu bawa pulang ubi pisang yang sisa dibawa dari gunung dan dibawa ke rumah," tutur Benediktus.

Halaman
123
Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved