Segini Produksi Garam di Sumba Timur Tahun 2018

Hasil produksi garam di Sumba Timur pada tahun 2018 secara keseluruhan sebanyak 455 ton.

Segini Produksi Garam di Sumba Timur Tahun 2018
POS-KUPANG.COM/RObert Ropo
Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Sumba Timur Hendrik Makaborang (Kiri) didampingi Sekertaris Dinas Perdagangan Drs. Zeferinus Yosef, BA sedang memberikan keterangan. - 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPANG. COM | WAINGAPU---Hasil produksi garam di Sumba Timur pada tahun 2018 secara keseluruhan sebanyak 455 ton.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Sumba Timur Hendrik Makaborang melalui Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perdagangan Sumba Timur, Frida M. Yiwa menyampaikan itu ketika dikonfirmasiPOS-KUPANG.COM, Selasa (25/6/2019).

Frida mengatakan hasil produksi pada tahun 2018 itu melebih target yang ditetapkan. Hasil produksi garam itu diperoleh dari para petani garam masak, garam tambak. Sedangkan produksi geo membran baru tahun ini mulai dilakukan di Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai.

"Karena apa kita punya data itu, karena kami harus memastikan bahwa semua garam yang ada harus teriodisasi. Karena sesuai Perda nomor 14 Tahun 2007 tentang peredaran garam beryodium dan non yodium, dan juga Perbup yang dikeluarkan pada Tahun 2011,"jelas Frida.

Frida juga mengatakan, Sumba Timur memiliki potensi untuk produksi garam dengan berkualitas. Sejauh ini di Sumba Timur ada produksi dari para petani berupa garam masak, garam tambak, dan produksi garam dengan menggunakan geo membran yang baru mulai dilakukan pada tahun 2019 ini.

Pemkab Sumba Tengah Siapkan Beasiswa Rp 10 Miliar bagi Siswa Siswi Tidak Mampu, Ini Penjelasannya

Ia mengatakan pemerintah daerah melalui Dinas Perdagangan sangat berharap agar memproduksi garam dengan menggunakan geo membran, sebab jika memproduksi garam menggunakan masak, tentu secara perlahan hutan akan mulai punah.

"Karena produksi garam masak ini harus pakai masak menggunakan kayu api yang banyak. Jadi hutan kita ini perlahan mulai hilang, sehingga kita harapkan produksi dengan geo membran saja. Apalagi harga kayu api juga satu mobil yang dibeli petani dari 800-1 juta rupiah,"kata Frida.

Masih kata dia, jika dilihat dari Kebutuhan garam di NTT sekarang makin tinggi, hal itu juga didukung dari gubernur NTT dimana NTT harus bisa mengekspor garam, maka sebaiknya menggunakan geo membran sebab produksinya tidak membutuhkan waktu yang lama.

Frida juga mengaku, Pemkab Sumba Timur sebenarnya sudah memiliki prabrik garam beryodium yang berlokasi di Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, namun saat ini sejak tahun 2016 pabrik garam itu sudah tidak berproduksi lagi.

"Karena memang alat-alatnya sudah rusak karena memang alat-alat dari besi jadi kalau kena garam dan air laut tentu berkarat. Selain itu, alasanya waktu itu dari BPK saat hasil pemeriksaan tidak bisa pabrik garam itu ditangani langsung oleh Dinas, namun harus diserahkan ke pihak ketiga agar karena jika itu ditangani oleh pemerintah maka tentu tupoksinya tidak dijalani dengan baik,"jelas Frida.

Ketika ditanyai terkait apakah alat yang rusak itu akan diperbaiki dan temuan BPK harus diserahkan kepada pihak ketiga pabrik garam itu, kata Frida pihaknya selama ini hanya fungsi mengawasi.

"Pengawasan itu dalam hal begini, kami tahu jumlah garam yang dihasilkan setiap tahun itu berapa untuk semua, bukan hanya garam masak, atau garam tambak tetapi juga garam dengan prodiksi geo membran yang baru tahun ini dilakukan oleh LSM Kopesda,"jelas Frida.  (*)

 
 

Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved