Disperindag Lembata Kembangkan Tambak Garam Tapobaran

Pihak Disperindag Kabupaten Lembata Kini Kembangkan tambak garam di Desa Tapobaran

Disperindag Lembata Kembangkan Tambak Garam Tapobaran
POS-KUPANG.COM/Frans Krowin
Kadis Koperindag Lembata, Gabriel Bala Warat (kanan), saat menandatangani berkas laporan retribusi Pasar Pada, di ruang kerjanya, Kamis (20/9/2018). 

Pihak Disperindag Kabupaten Lembata Kini Kembangkan tambak garam di Desa Tapobaran

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lembata saat ini sudah mengembangkan satu hektare tambak garam yang ada di wilayah Tapobaran, Kecamatan Lebatukan.

Produksi garam dari tambak yang sudah memakai teknologi geomembran ini menghasilkan 30 ton garam dalam sebulan. Sementara lahan garam yang masih bisa dikembangkan di Tapobaran bisa mencapai 10 hektare.

Hidup Dikerumuni Sampah dan Lalat Anak-anak TPA Alak Kota Kupang Masih Berani Bermimpi

"Tanah tetap milik masyarakat tapi pemerintah yang kelola," kata Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lembata, Gabriel Bala Warat ketika dihubungi, Senin (24/6/2019).

Permintaan garam Tapobaran ini sangat tinggi. Dia mengakui distribusi garam dengan nama Cap Pledang ini bahkan sampai ke wilayah Waiwerang, Pulau Adonara dan Flores Timur daratan.

Pemkab Sumba Tengah Anggarkan Dana Rp 20 Miliar untuk Air Bersih

Gabriel melanjutkan garam Cap Pledang dengan berat 250 gram ini mampu mengimbangi kebutuhan garam beryodium di Kabupaten Lembata supaya tidak terjadi gejolak harga dengan garam dari luar.

Garam Cap Pledang dijual di pasaran dengan kisaran harga Rp 1.000- Rp 2. 000. Jauh lebih murah dari harga garam produksi dari luar. Demikian juga kualitas garam Cap Pledang yang tidak kalah dengan produksi garam lainnya.

Menurutnya saat ini tambak garam di Desa Lolong, Kecamatan Nagawutung juga dikelola oleh masyarakat secara mandiri dengan memanfaatkan dana desa yang ada. Luasnya sekitar setengah hektare.

Potensi garam lainnya, berdasarkan data yang dikumpulkan pihaknya, juga ada di Bean, Kacamatan Buyasuri sekitar 780 hektare dan 350 hektare di Kecamatan Ile Ape.

Katanya, sudah banyak investor yang datang dan survei lapangan. Akan tetapi kendalanya adalah tanah berpotensi itu masih dimiliki masyarakat.

Menurut dia investor ingin tanah tersebut jadi milik pemerintah dan nanti bisa dia kelola untuk tambak garam.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lembata, Paul Makarius Dolu, ditemui di ruangnya kemarin, membenarkan kalau Garam Cap Pledang yang bertempat di Desa Tapobaran Kecamatan Lebatukan, masih ditangani dinas terkait.

Paul menyebutkan garam bisa jadi salah satu primadona dari Kabupaten Lembata. Dia berharap tambak tambak garam yang ada bisa dikelola pihak ketiga atau pihak swasta sehingga pemerintah tinggal membicarakan kontribusi Pendapatan bagi daerah atau Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Sampai saat ini, katanya, garam Cap Pledang belum terlalu dikenal. "Belum terlalu banyak masyarakat mengetahui bahwa ada garam produksi daerah, lokal," ungkapnya.

"Tugas kita khususnya dinas teknis harus memperkenalkan atau melaunching garam yodium Lembata," pungkasnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved