Dr. Herry Kotta, Industri Garam Bisa Menyerap Banyak Tenaga Kerja NTT

Dr. Herry Zadrak Kotta, Industri garam Bisa Menyerap Banyak Tenaga Kerja Provinsi NTT

Dr. Herry Kotta, Industri Garam Bisa Menyerap Banyak Tenaga Kerja NTT
POS-KUPANG.COM/Laus Markus Goti
Dr. Herry Zadrak Kotta di Gedung LP2M Undana Kupang, Senin (24/6/2019). 

Dr. Herry Zadrak Kotta, Industri garam Bisa Menyerap Banyak Tenaga Kerja Provinsi NTT

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Dr. Herry Zadrak Kotta, ST.,M.T kepala PPLHSA dan LP2M Undana mengapresiasi Pemerintah Provinsi NTT yang tengah berupaya berkontribusi memenuhi kebutuhan garam nasional.

Namun, ia menegaskan, agar ada dampaknya bagi masyarakat NTT, perlu dibangun industri garam.

Sekelompok Perampok Sekap 5 Karyawan Gudang Elektronik Selama 1 Jam di Bekasi

Ia mengatakan, secara nasional kita kekurangan garam industri hingga 3 juta ton per tahun, sehingga harus impor dari luar negeri.

Menurutnya, untuk meminimalisir kekurangan tersebut, Pemprov mau berkontribusi sebesar 1,5 ton per tahun.

"Pada intinya kalau ada industri, maka punya dampak baik bagi masyarakat kita," ujarnya saat diwawancarai POS-KUPANG.COM, di ruang kerjanya, Senin (24/6/2019).

Bupati TTU Turun Tangan Atasi Stunting

Menurutnya, dengan adanya industri, maka ada penyerapan tenaga kerja sehingga bisa mengurangi angka pengangguran di NTT.

Selain itu, petani garam tidak kesulitan menjual garam karena diakses ke industri. Dengan kata lain petani garam menjadi pemasok untuk industri.

"Saya kira memang sudah saatnya kita berpikir dan berbuat untuk berkontribusi secara nasional. Kita punya potensi lahan yang bagus, misalnya di Malaka dan Kabupaten Kupang," ungkapnya.

Ia mengatakan, selama ini masyarakat hanya menghasilkan garam untuk kebutuhan konsumsi, yakni garam krosok atau yang lebih dikenal dengan garam kasar.

Sementara itu Dr. Suwarni, M.Si, Dosen Kimia Undana, menegaskan, untuk kebutuhan konsumsi pun semestinya garam kasar perlu dimurnikan.

"Kan biasanya yang diproses di tambak, mutu garamnya masih di bawah 94%, sementara untuk konsumsi standarnya minimal 94%, jadi perlu pencucian, iodisasi," ungkapnya.

"Kalau untuk industri, kata dia, harus ada pemurnian lagi. Untuk standar industri minimal 98 %," tambahnya.

Ia mengatakan, ada banyak produk yang bisa dihasilkan dari garam industri. "Misalnya untuk cairan infus, pangan, kaca mobil dan lain-lain," ungkapnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved