FPL dan YABIKU Desak Pemerintah dan DPR RI Sahkan RUU Tentang Penghapusan Kekerasan Seksual

Dari 87 kasus kekerasan seksual yang ditangani YABIKU tersebut, semua korbanya adalah perempuan dan anak dari keluarga miskin.

FPL dan YABIKU Desak Pemerintah dan DPR RI Sahkan RUU Tentang Penghapusan Kekerasan Seksual
POS KUPANG/THOMAS MBENU NULANGI
Beberapa elemen masyarakat dan pemerintah di Kabupaten TTU menggelar diskusi bersama untuk membedah RUU tentang Penghapusan Kekerasan Seksual di Aula Victory II, Jumat (21/6/2019). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi

POS-KUPANG.COM | KEFAMENANU--Forum Pengada Layanan (FPL) dan Yayasan Amnaut Bife (YABIKU) meminta kepada pemerintah dan DPR RI segera mensahkan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Penghapusan Kekerasan Seksual.

Pasalnya, Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia termasuk di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) terus meningkat dan semakin meluas.

Permintaan itu disampaikan langsung oleh Koordinator Pendampingan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan YABIKU NTT, Farida Ikun melalui rilis yang diterima Pos Kupang,

Farida mengatakan, selama dua tahun terakhir yaitu tahun 2017 dan 2018, YABIKU telah menangani 87 kasus kekerasan seksual yang terdiri dari 41 kasus kekerasan seksual di tahun 2017 dan 46 kasus kekerasan seksual di tahun 2018.

Dari 87 kasus kekerasan seksual yang ditangani YABIKU tersebut, semua korbanya adalah perempuan dan anak dari keluarga miskin.

DJ Ipank Kristian Akan Ramaikan The Kings Lounge

BREAKING NEWS: Korsleting Listrik, Rumah dan Gudang Kayu Rusman Ludes Dilalap Api

Trianeta Henuk, Siap Harumkan Nama NTT di The Voice Indonesia 2019

Sedangkan di tingkat nasional, terang Farida, berdasarkan penelitian Komnas Perempuan, dalam sehari terdapat 1.098 perempuan yang mengalami kekerasan atau ada 46 perempuan dalam setiap satu jam yang mengalami kekerasan.

69 % pelakunya adalah orang-orang terdekat seperti suami, pacar, orang tua, teman, tetangga, guru dan sebagainya. Dan 31 % pelakunya bukan dari orang terdekat korban.

Farida menjelaskan, meskipun kasus kekerasan seksual yang terjadi di Kabupaten TTU dan di tingkat nasional tersebut sangat tinggi dan terus meningkat, tetapi kasus kekerasan seksual yang sesungguhnya terjadi di masyarakat jauh lebih besar (fenomena gunung es).

"Kasus kekerasan seksual yang ditangani YABIKU tersebut hanya sebagian kecil dari kasus yang sesungguhnya terjadi di masyarakat. Karena banyak dari korban kekerasan seksual yang tidak berani dan tidak tahu melaporkan kasusnya ke pihak yang terkait," ungkapnya.

Halaman
12
Penulis: Thomas Mbenu Nulangi
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved