Bangun Taman Wisata Rohani, Pemkab Belu Lakukan Komunikasi Ketua Suku Demi Kebaikan Bersama

Pemerintah Kabupaten Belu akan terus melakukan komunikasi dengan ketua dan warga suku selaku pemilik lahan di lokasi pembangunan taman wisata rohon

Bangun Taman Wisata Rohani, Pemkab Belu Lakukan Komunikasi Ketua Suku Demi Kebaikan Bersama
Pos Kupang.com/Teni Jenahas
PKK--Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Paulus Charles. R. Djaga, 

Laporan Reporter POS KUPANG.COM,Teni Jenahas

POS KUPANG.COM| ATAMBUA---Pemerintah Kabupaten Belu akan terus melakukan komunikasi dengan ketua dan warga suku selaku pemilik lahan di lokasi pembangunan taman wisata rohani di Teluk Gurita, Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak.

Pasalnya permasalahan yang muncul dari pihak suku merupakan masalah sosial akibat miskomunikasi. Untuk itu, demi kebaikan bersama, pemerintah akan terus melakukan komunikasi dengan tiga kepala suku selaku suku yang sudah menyerahkan tanah kepada pemerintah sebelumnya.

Hal itu dikatakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Paulus Charles. R. Djaga, ST, dikonfirmasi Pos Kupang.Com, Rabu (19/6/2019).

BREAKING NEWS: Delapan Rumah di Maumere Ludes Terbakar

Charles demikian sapaan Paulus Ch. R. Djaga mengatakan, perencanaan pembangunan taman wisata rohani tersebut sudah melalui mekanisme yang berlaku sehingga tidak ada persoalan.

Hal yang baru muncul adalah masalah sosial yang diduga terjadi karena miskomunikasi. Terhadap persoalan tersebut, pemerintah pasti berupaya untuk menyelesaikan secara bijaksama demi kebaikan bersama.

Charles menjelaskan, perencanaan pembangunan taman wisata rohani tersebut untuk mendukung sektor pariwisata di Kabupaten Belu. Dinas teknis melakukan penjajakan lahan dan mendapatkannya di Teluk Gurita setelah suku Kaliduk selaku pemilik tanah menyerahkan lahan kepada pemerintah. Penyerahan lahan itu terjadi tanggal 18 Maret 2017 yang dilengkapi dengan bukti-bukti.

Setya Novanto Dipantau 350 CCTV, Tak Boleh Dikunjungi Selama 1 Bulan, Ini Alasannya

Setelah suku kaliduk menyerahkan tanah, pemerintah bersama BPN melakukan pengukuran tanah. Saat pengukuran tanah, pihak suku yang menunjukan lahan untuk diukur. Hasilnya pengukuran mendapatkan luasan lahan 10 hektare.

Luas lahan tersebut sebetulnya tidak dipakai semua karena perkiraan lahan yang dipakai untuk membangun taman wisata rohani itu sekitar 4-6 hektare saja.

Setelah lahannya sudah diserahkan, pemerintah mengalokasikan anggaran pembangunannya tahun 2018 dan proses pembangunannya tahun 2019.

Setelah anggaran dialokasikan, pemerintah melalui dinas teknis melakukan desain dan proses tender.
Setelah tender, lanjut Charles, PPK belum memerintahkan kontraktor untuk memulai pekerjaan karena ada keberatan lagi dari pihak suku namun tidak semua suku menyampaikan keberatan. Yang menyampaikan keberatan hanya satu saku dari tiga suku yang menyerahkan tanah.

Terhadap persoalan tersebut pemerintah membuat rapat bersama dengan ketiga suku yang menyerahkan tanah dan pihak terkait lainnya. Perwakilan dari ketiga suku saat itu hadir semua dalam rapat yang berlangsung tanggal 3 Juni 2019.

Dalam rapat tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan yakni, pemerintah diminta merehab patung meo kaliduk, meminta perhatian pemerintah agar putra putri dari ketiga suku kaliduk bisa dipekerjakan dalam proyek pembangunan taman wisata rohani serta kontraktor diminta untuk memanfaatkan potensi yang ada di wilayah tersebut seperti kayu dan batu.

Terhadap permintaan ketiga suku, lanjut Charles, pemerintah mengakomodirnya. Untuk permintaan rehab patung, pemerintah sudah alokasikan anggaran dan tahun 2020 akan direalisasilan. Kemudian, permintaan soal mempekerjakan warga lokal, pemerintah juga sudah menjelaskan bahwa warga bisa bekerja jika pembangunan sudah mulai.

Sedangkan permintaan untuk memanfaatkan potensi lokal, Charles mengatakan, selaku PKK ia sudah memberitahukan kepada kontraktor dan kontraktor bersedia. (*)

Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved