Alat Bantuan Pertanian Distan Nagekeo untuk Kelompok Tani Rusak

Stanislaus mengungkapkan alat bantuan pertanian berupa alat tanam jagung mubazir karena tidak ada operator.

Alat Bantuan Pertanian Distan Nagekeo untuk Kelompok Tani Rusak
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do saat ikut tanam perdana benih jagung di KM 1.III Kanan Mbay Kabupaten Nagekeo, Senin (17/6/2019). 

Alat Bantuan Pertanian Distan Nagekeo untuk Kelompok Tani Rusak

POS-KUPANG.COM | MBAY -- Ketua Kelompok Tani Sumber Makmur KM 1. III Kanan, Stanislaus Keli (52), mengeluh soal alat bantuan pertanian dari Dinas Pertanian Nagekeo.

Stanislaus mengungkapkan alat bantuan pertanian berupa alat tanam jagung mubazir karena tidak ada operator.

Stanis mengatakan anggota kelompok tani Sumber Makmur berjumlah 19 orang dengan luas lahan 14 Hektar.

"Ini alat bantuan untuk kelompok KM I. III Kanan Kelompok Tani Sumber Makmur. Tidak ada tenaga untuk operator sehingga tidak bisa dioperasi. Kami tidak tau apa yang rusak dan memang tidak dipakai. Alat tanam dibagi tahun 2016," ungkap Stanislaus, usai lakukan penanaman perdana jagung di KM 1.III Kanan Kelurahan Lape Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo, Senin (17/6/2019).

Puluhan Wartawan Media Cetak Dan Elektronik, SBD, Ikut Pelatihan Jurnalistik

Renungan Harian Katolik, Minggu 16 Juni 2019, Persatuan dan Kerjasama

Ia mengungkap selain alat tanam jagung ada bantuan lain yaitutraktor, mesin rontok padi. Alat itu bisa digunakan karena anggota kelompok bisa operasikan.

"Alat tanam jagung rusak dan tidak tau. Karena tidak ada operator yang tau. Saya kasi masukan ke Dinas setiap kelompok ikut pelatihan. Supaya ketika ada alat baru kami tau gunakan," ujarnya.

Ia meminta dinas Pertanian Nagekeo untuk tetap memberikan perhatian kepada seluruh kelompok tani yang ada.

"Kami minta alat panen ke dinas dan juga kami minta alat rotari traktor untuk penggemburan, gali tanah," ujarnya.

Sementara Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco, saat iku melakukan penamanan jagung perdana mengungkapkan bahwa ada banyak alat pertanian yang memang mubazir.

Persoalannya karena tidak ada pendampingan yang serius dari dinas. Seharusnya membeli alat bantuan harus diberi pelatihan kepada anggota kelompok tani. Sehingga mereka bisa gunakan.

"Pendampingan kita tidak serius. Kekurangan dipendampingan," ujarnya.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan)

Penulis: Gordi Donofan
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved