Kompak Ajak Masyarakat NTT Gunakan Medsos Rawat Keberagaman

khususnya NTT menyikapi setiap keberagaman dipandang dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Kompak Ajak Masyarakat NTT Gunakan Medsos Rawat Keberagaman
POS KUPANG/LAUS MARKUS GOTI
Pemateri Romo Maxi Un Bria, Dedy Manafe, Dr. Hamza H. Wulakada dan Christo M. T. Kolimo, S. Th bersama peserta diskusi di Hotel Ima Kota Kupang, Kamis (13/6/2019). 

Kompak Ajak Masyarakat NTT Gunakan Medsos Rawat Keberagaman

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Komunitas Peace Maker Kupang (Kompak) berkolaborasi dengan CIS Timor dan Komunitas Rumah Perempuan menyelenggarakan diskusi bagaimana merawat keberagaman dan menghargai perbedaan demi terciptanya kehidupan yang rukun dan damai.

Diskusi yang berlangsung di Hotel Ima, Kota Kupang, Kamis (13/6 /2019) tersebut menghadirkan empat narasumber, antara lain, Romo Maxi Un Bria Moderator Pemuda Katolik, Dedy Manafe Dekan Bidang Akademik Fakultas Hukum Undana, Dr. Hamza H. Wulakada dan Christo M. T. Kolimo, S. Th.

Koordinator Kompak, yang ditemui POS-KUPANG.COM, di sela kegiatan diskusi tersebut menjelaskan, hal penting yang dibahas yaitu bagaimana masyarakat Indonesia, khususnya NTT menyikapi setiap keberagaman dipandang dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Yuk Kepoin, Perkiraan Cuaca Aktual Penerbangan di Bandara El Tari Kupang Hari Ini

SMAN 1 Kupang Timur Tetap Terapkan MOS bagi Siswa Baru

BERITA POPULER: 6 Tersangka Korupsi NTT Fair, Orang yang Akan Bunuh Gories Mere & 4 Pemain Persib B

"Golnya yaitu, kita mau mengajak masyarakat Indonesia khususnya NTT, bahu-membahu memberikan menciptakan toleransi dan damai. Salah satu caranya lewat media sosial," ungkapnya.

Ia menjelaskan, salah satu keprihatinan saat ini banyak ujaran kebencian yang berbau SARA, caci mencaci, hoaks, entah melalui tulisan atau meme marak beredar di Media Sosial (Medsos) sehingga bisa menimbulkan kegaduhan, kebencian di tengah masyarakat.

"Padahal kalau kita pahami dengan baik, kita ini Indonesia, Pancasila. Keberagaman budaya, suku dan lain-lain itu kekayaan yang harus kita hormati, hargai bersama. Daripada kita terprovokasi dengan itu semua, hoaks dan lain-lain, lebih baik kita menaburkan benih kedamaian," ungkapnya.

Christo M. T. Kolimo, S. Th, yang membawakan materi tentang media sosial, menjelaskan, orang Indonesia, tercatat sebagai salah satu negara pengguna media sosial terbesar di dunia. "Ini harusnya menjadi peluang bagi kita untuk menyebarkan informasi benar dan menggugah orang untuk hidup damai dan toleran," ungkapnya.

Menurutnya, hal sederhana yang bisa dilakukan ialah dengan membuat tagar aku cinta Indonesia, Pancasila, tidak ikut menyebarkan informasi hoaks dan hal-hal yang bisa meresahkan masyarakat.

Dedy Manafe menegaskan, hal yang harus diterima yaitu, Indonesia beragam dan berbeda-beda. Kekacauan terjadi ketika yang satu terlalu menonjolkan kelompok, suku, dan lain-lain dan tidak menghormati yang lain. "Kalau kita bicara dalam konteks Bhineka Tunggal Ika, kita lebih mengedepankan ke-Indonesiaan dan Pancasila sebagai dasarnya," ungkapnya.

Dr. Hamza H. Wulakada, menyoroti pentingnya simbol negara, Garuda Pancasila. Menurutnya simbol merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan sebab mengungkap makna yang amat dalam. "Misalnya dalam diskusi seperti ini harus ada Garuda Pancasila. Di situ mengungkap apa yang kita diskusikan hari ini," ungkapnya.

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta mengajukan pertanyaan kepada Romo Max Un Bria. "Bagaimana Gereja Katolik dalam merawat keberagaman dan perbedaan," ungkapnya.

Wagub NTT, Josef A. Nae Soi : UPTD Pendidikan Telah Ditetapkan dalam Pergub NTT

Ramalan Zodiak Jumat 14 Juni 2019, Taurus Harus Tenang, Scorpio Seimbang, Sagitarius Dapat Perhatian

Jelang Lawan Madura United 19 Juni 2019, Persebaya Dapat Kabar Baik, David Silva Ingin Kembali

Romo Maxi menegaskan, Gereja Katolik Indonesia, berpegang teguh bahwa seorang Katolik, Katolik seratus persen dan Indonesia seratus persen. Hal tersebut, kata Romo Maxi, diaktualisasikan dalam hidup menggereja dan sebagai warga negara Indonesia.

Perwakilan dari Gerakan Pemuda Ansor, mengutarakan, ada banyak cara menunjukkan sikap toleransi terhadap penganut agama lain. "Misalnya, ketika Misa Natal, atau acara-acara besar dari berbagai agama, kami pemuda muslim terlibat menjaga keamanan. Ini cara kita menjalin persahabatan dan persaudaraan dengan sesama. Lewat hal-hal inilah kita saling membuka diri satu terhadap yang lain," ungkapnya.

Diskusi ini dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari berbagai organisasi, komunitas dan media.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved