Bangun Budaya Ilmiah, Jikom Undana Gelar Fisip Corner, Yuk Simak!

Diskusi yang dimaksudkan untuk membangun budaya diskusi ilmiah dalam kampus tersebut dilaksanakan di lobby gedung FISIP Undana Penfui

Bangun Budaya Ilmiah, Jikom Undana Gelar Fisip Corner, Yuk Simak!
POS KUPANG/GECIO VIANA
Suasana diskusi dalam Fisip Corner di lobby gedung FISIP Undana Penfui, Kota Kupang, Rabu (13/6/2019). 

"Sekarang kembali ke kita, bagaimana kita menempatkan diri dalam berita dan informasi yang berseliweran di mana-mana. Cari kebenaran yang objektif dan kebenaran hakiki, karena realitas yang objektif dan hakiki tidak bisa diingkari oleh manipulasi," tegas Monika.

Ramalan Zodiak Jumat 14 Juni 2019, Taurus Harus Tenang, Scorpio Seimbang, Sagitarius Dapat Perhatian

Live Streaming Sidang Sengketa Pilpres di MK Jumat (14/6), Tim BPN Pastikan Prabowo-Sandi Tak Hadir

Sementara itu, dosen dari Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Drs Jacob Wadu, M.Si dalam sesi diskusi mengatakan, informasi dan opini yang masif beredar dalam pemilu tahun 2019 adalah pertarungan opini tanpa data dan fakta.

Menurutnya, ketertarikan terhadap hal tersebut dikarenakan rendahnya literasi terhadap media digital sehingga publik langsung percaya informasi yang ada sebagai suatu kebenaran.

Faktor lainnya adalah adanya fanatisme politik yang berlebihan yang ditampilkan oleh oknum atau kelompok tertentu dimana jagoan mereka bertarung dalam pemilu.

Lebih lanjut, kata Jacob, infrastruktur penyebaran opini tanpa data dan fakta ini dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat dengan sarana aplikasi sosial media yang ada.

"Memang sudah melimpah. Banyak orang dapat mengakses. Di mana saja dan siapa saja mampu mengakses," ujarnya.

Berdasarkan data yang diperolehnya, selama Januari-Maret 2019, terdapat 350 informasi hoax yang beredar.

"Dan dikemukakan dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, sebanyak 50 persen ditujukan kepada Capres nomor urut 01, hanya 27 persen kepada capres nomor urut 02 dan sisanya 23 kepada lembaga pemerintah. Informasi ini hanya sesaat untuk menghantam Jokowi jangan berkuasa lagi," jelasnya.

Dalam penyebaran informasi tersebut, lanjut Jacob, terdapat agenda politik polarisasi berdasarkan identitas yang dikhawatirkan alan merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Sehingga, media memegang peran penting dalam menyampaikan fakta yang objektif dan melakukan filterisasi terhadap informasi yang ada.

Hal tersebut agar memastikan sekaligus membuktikan kebenaran informasi yang ada.

Media pun diharapkan bekerja berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana.)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved