Limbah B3  RS di NTT  Belum Dikelola Optimal

Penge lolaan limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) oleh seluruh rumah sakit di NTT belum optimal berdasarkan pemantau dan evaluasi Dinas Lingk

Limbah B3  RS di NTT  Belum Dikelola Optimal
POS-KUPANG.COM/EGINIUS MOA’
Pembukaan  bimbingan  teknis  pengelolaan limbah B3  medis  wilayah  Flores di  Hotel Sylvia  Maumere, Pulau  Flores,  Rabu  (12/6/2019).   

POS-KUPANG.COM,MAUMERE---Penge lolaan limbah Bahan Berbahaya Beracun   (B3)    oleh  seluruh rumah sakit di NTT  belum optimal berdasarkan pemantau  dan evaluasi  Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi NTT.

Kenyataan ini disebabkan belum dimilikinya dokumen lingkungan oleh hampir semua  RS,  minimnya upaya pengurangan, belum    terpenuhinya  tempat penyimpanan sementara  yang standar terutama  penyimpanan limbah medis  jenis   infeksius  dan   belum dimiliki  izin pengolahan menggunakan  insinerator dari Menteri Lingkugan  Hidup.

Anggota Koramil 1612-08 dan Polsek Macang Pacar Bersama Warga Tebas Semak Belukar di Golo Welu

“Saya  meyakini kondisi  serupa  juga dialami  beberapa   fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskemas  dan klinik,  mungkin  lebih buruk  kondisinya,” kata  Sekda   Sikka, dr.Valens  Tupen,  ketika menyampaikan sambutan tertulis Bupati  Sikka,  Fansiskus   Roberto  Diogo, pada  pembukaan  bimbingan  teknis  (Bimtek) pengelolaan limbah B3  medis  wilayah   Flores di  Hotel Sylvia  Maumere,  Rabu (12/6/2019).

Valens  mengakui, kewenangan  pengelolaan limbah B3  yang dimiliki pemerintah  kabupaten/kota terbatas.  Selain  aturan teknis operasional lainnya  yakni sebatas mengeluarkan izin  tempat penyimpanan sementara  (TPS)  dan izin  pengumpulan limbah B3  dalam wilayah kabupaten/kota. 

Sedangkan pemerintah propinsi punya kewenangan  perizinan pengumpulan limbah B3 lintas kabupaten/kota, selebihnya  kewenangan Menteri  Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Persib Bandung B Belum Bisa di Liga 2 2019 meski Resmi Akuisisi Blitar United, Ini Alasannya

Karena  itu,  bisa dibayangkan  jika  setiap RS, Puskesmas dan  fasilitas pelayanan  kesehatan karena  kewajiban memiliki alat pengolahan limbah medis  yakni insinerator  dan mengurus  izin ke Mentri Lingkungan  Hidup dan Kehutanan  akan menghabiskan biaya besar.

“Saya  apresiasi Gubernur NTT  menggagas pembentukan UPTD sampah limbah B3 dibangun  di  Timor, Flores dan  Sumba,” ujar Valens.

 Bimtek  diikuti peserta  dari seluruh  RS dan  dinas  lingkungan  hidup  dari  Pulau  Flores, Lembata.  Pembukaan  pelatihan  dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan  NTT,  Ir.Ferddy J.Kapitan,M.Si, dan  Kepala  Dinas  Lingkungan  Hidup  Sikka, Yunida Pollo. (laporan wartawan  pos-kupang.com,  eginius mo’a)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved