Ini Kata Pengamat Terkait Video Penganiayaan Siswa SMK Bina Maritim Maumere

Ini Kata pengamat Terkait Video Penganiayaan Siswa SMK Bina Maritim Maumere

Ini Kata Pengamat Terkait Video Penganiayaan Siswa SMK Bina Maritim Maumere
POS-KUPANG.COM/Aris Ninu
Dr. Marianus Mantovanny Tapung, S. Fil., M.Pd, Dosen Filsafat Pendidikan UNIKA Indonesia St. Paulus Ruteng. 

Ini Kata pengamat Terkait Video Penganiayaan Siswa SMK Bina Maritim Maumere

POS-KUPANG.COM | RUTENG - Dr. Marianus Mantovanny Tapung, S. Fil., M.Pd; Dosen Filsafat Pendidikan UNIKA Indonesia St. Paulus Ruteng angkat bicara terkait beredar video penganiayaan yang diduga dilakukan oleh siswa SMK Pelayaran Bina Maritim Maumere, Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur melalui jejaring media sosial Facebook.

Kepada POS-KUPANG.COM di Ruteng, Rabu (12/6/2019) siang, Manto mengatakan, ada beberapa terkait video penganiayaan tersebut, pertama, terlepas dari apa yang melatabelakanginya, peristiwa perploncoan ini kembali menodai dan memberangus nilai-nilai dasar pendidikan di wilayah NTT.

Tak Hanya di Sekolah, Irfan Dianiaya Senior di Terminal dan Jalan

Peristiwa yang terjadi lingkungan sekolah ini telah mengangkangi hakekat inti pendidikan sebagai instrumen dasar untuk menjadikan seorang manusia menjadi lebih manusiawi, lebih beradab dan berakhlak.

Kedua, peristiwa perploncoan ini menggambarkan dengan lugas, kegagalan sebagian pendidikan kita, juga termasuk kegagalan kami sebagai pendidik dan pengajar.

Wacana Pembentukan TGPF Rusuh 22 Mei, Begini Usul Politisi PPP Arsul Sani

Kami bisa dianggap gagal untuk membentuk manusia yang seharusnya tidak saja berpengetahuan, tetapi juga memiliki karakter kepribadian yang santun, beradab dan bisa menghargai sesama sebagai saudara.

Ketiga, peristiwa ini tentu tidak berdiri sendiri dan bisa merupakan akibat saja. Pendekatan pembelajaran di sekolah yang belum komprehensif, perhatian dan pengawasan orang tua, guru dan masyarakat yang minim bahkan cenderung permisif, bisa menjadi beberapa faktor pemicu munculnya peristiwa ini.

Dan, keempat, pihak sekolah (guru dan kepala sekolah), orang tua dan masyarakat perlu `duduk bersama' untuk membahas secara tuntas masalah ini. Semua harus terlibat aktif untuk mencegah agar peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi. Pendekatan kemanusiaan dan budaya bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini, tetapi pendekatan hukum perlu untuk menciptakan efek jera untuk oknum yang melakukannya, juga untuk masyarakat sekolah yang lain. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Aris Ninu)

Penulis: Aris Ninu
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved