Renungan Harian

Renungan Harian Kristen Protestan Senin 3 Juni 2019, "Air Mata Cinta"

Renungan Harian Kristen Protestan Senin 3 Juni 2019, "Air Mata Cinta" oleh Pdt Dina Dethan Penpada MTh

Renungan Harian Kristen Protestan Senin 3 Juni 2019,
dokumentasi pribadi
Pdt Dina Dethan Penpada MTh 

Renungan Pagi Kristen

Senin 3 Juni 2019

Oleh  Pdt. Dina Dethan Penpada, MTh

--

Air Mata Cinta

Kejadian 23: 1-2 danMazmur 23:4

 --

Sejak kemarin hingga hari ini, Indonesia berduka oleh karena kematian mantan Ibu Negara yang berhati luhur, Ibu Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono.

Ibu Ani meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker darah. Suaminya, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono yang sehari-hari nampak tegar, tak kuasa menahan tangisnya.

Melalui tayangan di Televisi, saya melihat kesedihan beliau.

Matanya tampak sembab dan suaranya lirih bercerita saat perpisahan terakhir menjelang kematiannya.

Ia melihat air mata di pelipis mata kiri istrinya seolah ada pertautan batin. Beliau mengakui bahwa air matanya pun sempat jatuh.

Air mata cinta, air mata kasih, air mata sayang.

Bacaan kita hari ini juga menceriterakan tentang kesedihan Abraham ketika Sara, istrinya meninggal. 

Ayat 2 bacaan kita mengatakan: ketika Sara meninggal, Abraham meratapi dan menangisinya. 

Meratap: tidak sekedar tetesan air mata, tetapi cucuran air mata yang disertai tangisan dan jeritan yang histeris sebagai ungkapan kesedihan tetapi juga penghormatan terhadap Sara istrinya.

Alkitab tidak menceriterakan secara detail bagaimana perasaan Ishak pada saat Sara meninggal, tetapi dapat dipastikan bahwa Ishak sangat kehilangan mamanya.

Pada saat itu Ishak berusia 37 tahun dan ia belum menikah.  

Abraham meratapi istrinya, oleh karena Sara istrinya telah menghabiskan sebagian hidupnya bersamanya.

Sara mengikuti Abraham dari Ur-Kasdim sampai ke Haran, kemudian ketanah Kanaan. 

Karena bencana kelaparan di Kanaan, Sara mengikuti Abraham meninggalkan Kanaan menuju Mesir.

Dari Mesir, mereka kembali lagi ketanah Kanaan.

Suka dan duka silih berganti dialami Sara dalam menyertai suaminya sepanjang ribuan kilometer (Kejadian 11:l31; Kejadian 12:4-6; Kejadian 12:10-11; Kejadian 13:1-3). 

Ketika berpindah-pindah, Sara mesti membantu suaminya membereskan kemah, membawa ternak dan mendirikan kemah lagi.

Sara juga bersama Abaraham bergumul menanti janji Allah, dan dalam penantian itu ia pernah meragukan janji Allah.

Namun melalui pengalaman-pengalaman itu, ia bukan saja makin mencintai Sara, tetapi ia terus belajar berjalan setia pada Tuhan.

Hal itu terbukti ketika Tuhan Allah meminta Abaraham mempersembahkan Ishak, tidak ada catatan sama sekali tentang protes yang diajukan mereka berdua sebagai orangtua kandung Ishak.

Sudah sebagai ibu, tentu mengalami pergumulan batin yang sangat berat ketika Ishak dibawa oleh Abaraham ke Moria.

Namun ia diam membisu demi memenuhi panggilan Allah.

Sara sendiri meninggal dunia pada usia 127 tahun atau 37 tahun setelah melahirkan Ishak.

Sampai ajal menjemput, ia tidak sempat melihat anak tunggalnya menikah sebab Ishak menikah saat berumur 40 tahun.

Berarti 3 tahun setelah kematiannya (Kejadian 25:20).

Kematian istri dan mama, merupakan dukacita paling dalam. Ibarat kegelapan di atas kegelapan.

Penderitaan di atas penderitaan. Kepedihan di atas kepedihan.

Siksaan di atas siksaan. Banyak orang memberi kesaksian bahwa kematian mama meninggalkan luka yang sangat dalam, oleh karena mama adalah cinta pertama setiap manusia.

Saudara… dalam hidup ini, ada saat dimana kita berada dalam kesedihan yang mendalam, baik karena berbagai persoalan hidup, maupun kehilangan orang-orang yang kita kasihi.

Saat kita seperti berada dalam lembah kekelaman dan air mata tak dapat dibendung, karena kesedihan yang tak dapat kita pikul.

Percayalah bahwa Ia memahami tangisan kita, Ia memahami setiap tetesan air mata.

Bahan Ia sendiri sendiri akan menghibur dan memulihkan kita.

Apa pun yang dialami, mari seperti pemazmur yang mengatakan: ”sekalipun aku berjalan dalam kekelaman, aku tidak takut sebab Tuhan besertaku”.

Kita pun dapat mengatakan hal yang sama dengan iman yang sungguh, bahwa Tuhan yang kita imani lebih besar dari penderitaan yang kita alami, Ia telah mengambil bagian dalam penderitaan kita bahkan menanggung penderitaan kita di kayu salib melalui kematianNYa.

Ia telah menangatas kuasa kematian. Lengan-Nya yang penuh kasih takkan pernah membiarkan kita binasa.

Dia adalah yang awal dan akhir. Dia akan selalu menyertai kita. Amin

 (*)

Editor: Eflin Rote
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved