NTA Australia Bidik Pasaran Sarung Ikat Tenun Sikka

Nusa Tenggara Association ( NTA) Australia Bidik Pasaran Sarung Ikat Tenun Sikka

NTA Australia Bidik Pasaran Sarung Ikat Tenun Sikka
POS-KUPANG.COM/Eginius Mo'a
Manajer Operasi NTA Australia, Stephanie Heighes, mengikuti musyawarah umum penerima manfaat program NTA-Australia dan NTA-Indonesia di Aula Biara SCMM Wairklau Kota Maumere,Pulau Flores, Selasa (28/5/2019). 

Nusa Tenggara Association ( NTA) Australia Bidik Pasaran Sarung Ikat Tenun Sikka

POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Kehadiran lembaga nirlaba, Nusa Tenggara Association ( NTA) Australia dan NTA Indonesia di Kabupaten Sikka, Pulau Flores sejak 2002 tak hanya mengintervensi sektor usaha rumah tangga dan pendirian bak penampung air hujan (PAH).

Kini, NTA Australia sedang merintis pemasaran sarung ikat tenun karya kelompok binaan NTA Indonesia dan mitranya Yayasan Pengembangan Masyarakat Flores (YPMF).

Dukcapil Kota Kupang Soft Launching Aplikasi Online SIGAP dan Pahe Adminduk

"Kita sedang lakukan pilot project pemasaran ikat tenun. Kesulitan terbesar pemasaran kain ikat tenun," kata Manajer Operasi NTA Australia, Stephanie Heighes, kepada POS-KUPANG.COM, Selasa (28/5/2019) di Maumere.

Stephanie, ke Maumere menghadiri musyawarah umum kelompok masyarakat penerima manfaat program NTA Australia dan NTA Indonesia di Aula Biara SCMM Wairklau, Kota Maumere.

Lonjakan Penumpang Terjadi H-10 Jelang Lebaran

Stephanie mengakui kaum perempuan di Sikka sangat cakap membikin sarung ikat tenun. Mereka cerdas membikin perwarna alam.

"Tetapi kesulitan mereka di pemasaran. Apalagi kalau jual di Maumere saja. Kami coba membuat akses menjual keluar dari Maumere," ujarnya.

Ia mengatakan, NTA Australia menggelar pelatihan meningkatkan kualitas tenunan, promosi oline di media sosial facebook dan instagram. Ia juga mengharapkan kaum perempuan suata waktu bisa melakukanya sendiri hingga negosiasi harga dengan pemesan.

Bagi Stephanie, tenun ikat merupakan produk menarik dan unik dihasilkan dari proses kreativitas.

"Latar belakang saya antropologi. Orang Eropa tertarik dengan ikat tenun.Saya presentase di Bali gunakan dokumentasi selama 15 menit, mereka tertarik sekali. Mereka heran proses awal sampai jadi tenunan. Lama dan dan rumit, cari daun pewarna. Karena itu sarung ikat tenun mahal Rp 4-5 juta," imbuh Stephanie.

Menurut Stephanie, jaringan pemasaran ikat tenun telah dimulai dengan pilot project Kelompok Bida Mitan di Desa Takaplager, Kecematan Koting.

"Sudah lumayan bagus, mereka jalin pemasaran ke Bali," ujarnya. (Laporan wartawan pos-kupang.com, eginius mo'a)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved