Minggu, 31 Mei 2026

Ciri-Ciri dan Keutamaan Orang Bertaqwa

Kenali ciri dan keutamaan orang bertaqwa. Kamu termasuk dalam golongan itu?

Tayang:
Editor: Adiana Ahmad
Grid.id
Puasa Ramadhan 

Ciri- Ciri dan Keutamaan Orang Bertaqwa

Suhardi, S.Ag
Suhardi, S.Ag (Dokumen pribadi)

OLEH : SUHARDI, S.AG

(Penyuluh Agama Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT)

Alhamdulillah marilah kita panjatkan syukur kehadirat Allah Swt, atas segala nikmat dan karunia-nya, sehingga kita dapat melaksanakan shalat Jum’at di Masjid yang mubarok ini.

Shalawat serta salam senantiasa kita sanjungkan kehadirat Rasulullah Muhammad Saw, yang telah membawa ajaran Islam ketengah-tengah kehidupan kita serta menjadi contoh tauladan bagi kita sekalian. 

Marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan, sebab dengan iman dan takwa tujuan dan tugas hidup kita semakin jelas dalam rangka beribadah kepada Allah Swt. Semoga keimanan dan ketakwaan  senantiasa meningkat dari waktu ke waktu dan dapat menjadi bekal kehidupan di dunia dan akhirat.

Sebentar lagi bulan suci ramadhan yang kita kenal dengan sebutan “Bulan penuh Baroqah”, pergi meninggalkan kita. Lalu apakah tujuan ibadah Puasa dapat kita raih? 

Sebagaimana dijelaskan pada akhir ayat Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 yang mewajibkan umat Islam mengerjakan puasa bulan Ramadhan itu diterangkan, bahwa fungsi utama dan dampak positif ibadah puasa itu ialah membentuk manusia yang taqwa.

Seperti diketahui, perkataan taqwa itu, berasal dari pokok kata ittaqa berarti takut kepada Allah dan beramal mentaati-Nya.

Adapun pengertianya menurut Syari’ah diuraikan oleh Prof. Afif Tibbarah dalam bukunya : “Luhud Dinil Islamy” : “……bahwa manusia takut melaksanakan hal-hal yang dimurkai Allah Swt dan takut kepada hal-hal yang merusakkan kepada dirinya sendiri dan merusakkan kepada orang lain”.

Jadi menurut pengertian tersebut taqwa itu mengandung tiga unsur :

1.       Menjauhkan diri dari perbuatan yang di murkai Allah SWT

2.       Menghindarkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat buat diri sendiri

3.     Menjauhkan perbuatan-perbuatan yang merusak atau merugikan orang lain.

Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 133, menjelaskan ciri-ciri orang yang bertaqwa. Artinya :  Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dalam ayat tersebut diatas dijelaskan bahwa secara garis besarnya ada dua ciri orang yang bertqwa.

Pertama : orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah baik dalam keadaan lapang ataupun sempit atau dengan kata lain bersedaqoh.

Sedekah secara umum adalah pemberian sebuah barang atau apapun kepada orang lain dengan benar-benar mengharap keridhoan Allah SWT. Dalam pengertian kamus Arab Indonesia mengenai sedekah, H. Mahmud Yunus menulis sedekah berasal dari kata ”shadaqa-yashduqu-shadaqatan” yang artinya memberikan sedekah dengan sesuatu.

Sedekah atau shadaqah berasal dari kata shadaqa yang berarti ’benar’. Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Menurut terminologi syariat, pengertian sedekah sama dengan pengertian infak, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Infak hanya berkaitan dengan materi sedangkan sedekah memiliki arti luas, menyangkut juga hal yang bersifat nonmaterial.

Sedekah dalam pengertian bukan zakat sangat dianjurkan dalam Islam dan sangat baik dilakukan tiap saat. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang menganjurkan kaum muslimin untuk senantiasa memberikan sedekah. Diantaranya adalah:  Artinya : ”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah: 261)

Menurut Sayyid Quthub dalam Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an, bahwa ayat ini tidak dimulai dengan mewajibkan ataupun menugaskan, namun hanya anjuran dan memberikan rangsangan atau pengaruh. Metode seperti ini sangat efektif untuk membangkitkan perasaan dan menimbulkan kesan-kesan yang hidup didalam jiwa manusia. Jadi harta yang disedekahkan akan berkembang dan memberikan keberkahan kepada pemiliknya.

Sedekah terbagi menjadi dua bentuk, yang bersifat  material atau fisik, dan yang bersifat non material atau fisik. Didalam sedekah yang bersifat  material  terdapat dua jenis sedekah diantaranya yang bersifat wajib seperti zakat fitrah maupun maal, dan sedekah yang bersifat sunnah (shadaqah jariyah). Sedangkan yang bersifat non material meliputi lima macam,  yaitu pertama: tasbih, tahlil, tahmid, takbir  dan do’a. Kedua: berasal dari badan berupa senyum, tenaga untuk bekerja dan membuang duri dari jalan dan lain-lain. Ketiga: menolong atau membantu orang yang kesusahan yang memerlukan bantuan. Keempat menyuruh kepada kebaikan atau yang ma’ruf , sedangkan yang Kelima, menahan diri dari kejahatan atau merusak.

Adapun keutamaan shadaqoh dijelaskan dalam Firman Allah Swt. Artinya : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

 Pada ayat di atas, Allah swt meletakkan suatu kaidah yang sangat penting sekali di dalam kehidupan manusia. Kaidah tersebut adalah “ bahwa manusia ini tidak akan mendapatkan kebahagian dan keberhasilan di dalam kehidupannya baik sewaktu di dunia ini maupun di akherat nanti, kecuali jika ia mau mengorbankan apa yang dicintainya demi kehidupan manusia itu sendiri.

Kedua : ciri kedua orang yang bertaqwa dalam ayat tersebut diatas adalah orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain.

Sebagai makhluk sosial tentu beragam cerita pernah kita torehkan di atas kehidupan. Ada pertautan rasa dan persentuhan raga. Ada tetesan harapan dan titian kenyataan. Ada tuntutan bathin dan tantangan lahir. Lalu, siapa tahu telah pula menggumpal menjadi noda hitam. Yang sempat membuat kita tak sudi saling menyapa.

Memohon maaf itu jauh lebih mudah dari memberi maaf, begitu kata orang. Dan, benar sekali. Dalam kenyataan hidup sehari-hari kita menemukan demikianlah adanya. Bahwa memberi maaf, terasa amat berat.

Soalnya, kadang isi ditakar dengan gengsi dan harga diri. Seorang kakak belum mau memberi maaf kepada adiknya, jika sang adik belum datang memohon maaf.

Seorang pimpinan belum mau memberi maaf kepada bawahannya, sebelum bawahannya merunduk meminta maaf kepadanya.

Begitulah seterusnya. Lebih-lebih orang itu memiliki kedudukan yang cukup dan kekayaan yang melimpah, tentu dia kian sungkan mendahului menjabat tangan dengan penuh kemaafan kepada yang miskin dan papa. Apalagi si miskin dan papa itu pernah pula menyakiti hatinya.  

 Itulah sebabnya, Islam jauh-jauh hari menganjurkan kepada umatnya, bahwa memohon maaf memang baik, namun jauh lebih baik justru memberi maaf.

Secara psikologis, orang yang melakukan kesalahaan kemudian meminta maaf, itu biasa. Yang luar biasa adalah, orang yang benar, tapi tidak merasa paling benar.

Baginya tiada manusia yang tak luput dari salah dan dosa. Bukankah Nabi pernah bersabda, "Al-insanu mahallul khata' wan nisyan " (manusia adalah tempat salah dan alpa). Karenanya, ia selalu memberi maaf kepada siapa saja yang melakukan kesalahan. la tidak berlaku mentang-mentang.

Malah menerima kebenaran di pihaknya dengan rendah hari. Ini pekerjaan berat. Membutuhkan keberanian moral untuk melakukannya. Dan tentu saja tidak semua orang bisa.

Hanya orang-orang yang berjiwa besar, berhati lapang, serta terbiasa dan terdidik dalam suasana kedewasaan sajalah yang berkenan melakukannya dengan senyum terkulum manis.

"Kedewasaan," ujar Martimer R. Feinberq, "adalah orang yang ikhlas menerima dirinya sendiri, serta memiliki kesabaran dan mampu menghargai orang lain seraya bersedia menerima kesalahannya, lalu memaafkannya."

Orang demikian tidak memiliki halangan kejiwaan dalam berucap maaf. Hambatan psikologis yang biasanya membungkus angkuh dalam diri setiap pribadi yang berada di pihak benar, dipendam dalam-dalam. Seolah hendak mengatakan: "Hari ini kamu yang salah, mungkin besok siapa tahu saya."

Inilah orang besar. Orang yang sanggup mengatasi egonya sendiri kemudian masuk ke dalam ego orang lain, lalu dia berbahagia di dalamnya.

Dari relung hatinya yang paling dalam terpancar kasih yang tulus, yang oleh Albert Camus disebut sebagai "cinta sejati". Cinta kepada sesamanya tanpa menghitung-hitung untung dan rugi. Kecuali mengharapkan cinta dan kasih Tuhan semesta Alam.

Melalui kesempatan ini, saya mengajak jama’ah sekalian untuk tinggalkan berbagai macam perbedaan itu, menjaga persatuan, eratkan hubungan, tingkatkan silaturrahim, rapatkan persaudaraan serta raihlah ketaqwaan. Sebab hanya ketaqwaanlah yang menentukan tinggi dan rendahnya derajat, mulia atau tidaknya kita dihadapan Allah Swt.

Sebagaimana dijelaskan didalam Al-Qur’an Surat Al-Hujarat ayat 13. Artinya :  Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.   Wallahu A’lam Bish-Shawaf.(*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved