Mengintip Berbagai Hasil Anyaman Masyarkat Desa Tuabatan Barat di Kabupaten TTU

Salah satu karya tangan yang sangat banyak di jumpai disana adalah hasil anyaman masyarakat

Mengintip Berbagai Hasil Anyaman Masyarkat Desa Tuabatan Barat di Kabupaten TTU
POS-KUPANG.COM/ Thomas Mbenu Nulangi
Hasil anyaman masyarakat Desa Tuabatan Barat yang dipajangkan di stannya dalam acara Pembukaan Kegiatan Bulan Bakti Gotong Royong di Desa Akom 

Mengintip Berbagai Hasil Anyaman Masyarkat Desa Tuabatan Barat di Kabupaten TTU

POS-KUPANG.COM | KEFAMENANU--Desa Tuabatan Barat, adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Miomaffo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Desa tersebut sangat kaya akan hasil karya tangan warganya.

Salah satu karya tangan yang sangat banyak di jumpai disana adalah hasil anyaman masyarakat. Para ibu-ibu disana mejadikan anyaman sebagai pekerjaan sampingan mereka.

Selain membantu sang suami di kebun, wanita di desa Tuabatan Barat juga pandai menganyam. Lewat tangan-tangan mungil wanita disana, berbagai hasil anyaman seperti Nyiru, dan Tanasak, serta bakul dihasilkan.

Ditemui saat pembukaan kegiatan Bulan Bakti Gotong Royong di Desa Akomi, Jumat (24/5/2019), salah seorang ibu dari Desa Tuabatan Barat, Dominika Eni mengatakan, bahan dasar pembuatan anyaman dihasilkan dari daun lontar.

Hanya 3 Hari, Pemprov NTT Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Sembako

Pustu Wae Renca TManggarai Terbakar, Kepala Pustunya Terluka

"Bahan dasar dari anyaman ini dari daun lontar. Setelah itu dikeringkan, lalu kita potong sesuai ukurannya. Kemudian kita mulai anyam sesuai dengan keinginan kita baik untuk anyam Nyiru, Tanasak, dan bakul," ujarnya.

Dominika mengatakan, untuk menganyam satu buah Nyiru, dibutuhkan waktu sekira satu hari. Begitu juga Tanasak dan bakul yang mereka anyam, semuanya membutuhkan waktu satu hari.

Sebelum Meninggal, Ustadz Arifin Ilham Berikan Nama Indah Untuk Putri Kecilnya, Apa Artinya?

Dinkes Ngada Adakan Sosialisasi Tentang Stunting

"Tidak lama, palingan hanya butuh waktu satu hari saja untuk anyam satu Nyiru, bakul, dan Tanasak," terangnya.

Biasanya, kata Dominika, setelah selesai mengayam, ia menjual hasil anyaman tersebut di setiap hari pasar. Selain itu, sudah ada dari masyarakat yang memesan.

"Jadi tidak sulit untuk menjualnya, karena selain bawa ke pasar, ada juga masyarakat yang sudah memesannya," ujarnya.

Dominika menambahkan, harga anyaman dari masyarakat di Desa Tuabatan Barat sangat terjangkau. Satu Nyiru dan satu Bakul dihargai sebesar Rp. 20.000. Sedangkan satu Tanasak dihargai sebesar Rp. 10.000.

"Uang itu untuk membantu suami memenuhi kebutuhan hidup. Beli makan dan minum. Kalau lebih bisa buat biayai anak sekolah," ungkapnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi)

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved