Ratusan Ton Beras asal Sulsel Masuk Lembata

Sebanyak Ratusan Ton Beras asal Sulawesi Selatan Masuk Kabupaten Lembata

Ratusan Ton Beras asal Sulsel Masuk Lembata
POS-KUPANG.COM/Frans Krowin
Aktivitas bongkar beras di Pelabuhan Lewoleba, Lembata, Kamis (23/5/2019). 

Sebanyak Ratusan Ton Beras asal Sulawesi Selatan Masuk Kabupaten Lembata

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Setiap bulan, ratusan ton beras dari Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), masuk di Pelabuhan Lewoleba, Kabupaten Lembata. Beras itu diangkut dengan kapal layar motor (KLM) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

"Beras yang ada di Lembata saat ini, semuanya dipasok dari Makassar. Setiap bulan ratusan ton kami bawa datang ke Lembata," ujar Syamsul, ABK KLM Cahaya Riski 02, ketika ditemui Pos Kupang.Com di Pelabuhan Lewoleba, Kamis (23/5/2019) siang.

Jimmi Sianto Minta Pemerintah Perhatikan Usaha Tenun Ikat

Dikatakannya, pekan lalu, kapalnya memuat 100 ton beras dari Makassar. Volume beras sebanyak itu dibawa ke Lembata untuk dijual. Dan, hanya beberapa hari saja, beras tersebut sudah laku seluruhnya. Semuanya habis diserap pasar setempat.

Selama ini, katanya, Lembata merupakan daerah dengan pembelian beras tertinggi. Setiap bulan, banyak kapal berlayar dari Sulawesi Selatan menuju Pelabuhan Lewoleba. Semua kapal itu hanya mengangkut satu jenis komoditi, yaitu beras dengan berbagai jenis mutu.

Nam Air Alami Kerusakan, Puluhan Penumpang Tujuan Denpasar Diangkut Pesawat Pengganti

Beras yang dibawa itu, lanjut Samsul, tak semuanya bukan beras yang dipesan oleh para pengusaha di Lembata. Olehnya, setelah tiba di Lewoleba, beras itu langsung dijual di pelabuhan.

Saat dijual itulah, lanjut Syamsul? masyarakat dan para pengusaha, datang dan membelinya. Para pembeli kebanyakan warga maupun pengusaha yang berdomisili di Kota Lewoleba dan sekitarnya. "Kebanyakan pembeli dari Lewoleba dan masyarakat di sekitar kota ini," ujarnya.

Soal harga komoditi tersebut, kata Syamsudin, relatif terjangkau. Harganya sesuai dengan kualitas beras yang dijual. Jika beras berkualitas bagus (bersih tanpa dedak), misalnya beras Cap Anak Qadafi, harganya minimal Rp 230.000/karung (20 kg). Tapi itu pun tergantung negosiasi.

Dari pengalamannya sebagai ABK di kapal beras, ungkap Syamsul, beras dari Sulses, kebanyakan dibawa dan dijual di Flores dan Lembata. Adakalanya juga dijual ke Kupang dan daerah lain seperti di Pelabuhan Seba, Kabupaten Sabu Raijua (Sarai).

Khusus di Lembata, katanya, penjualan beras relatif lancar. Sebagai misal, setiap kapal yang memuat beras tiba di Pelabuhan Lewoleba, maka tak lama berselang, beras itu pasti laku seluruhnya. Seperti halnya Kapal Cahaya Riski 02, tempat ia bekerja. Armada tersebut baru tiba pekan lalu tapi saat ini muatannya sudah laku seluruhnya.

"Mungkin karena di Lembata ini lahan persawahan kurang sehingga masyarakat sangat bergantung pada pasokan beras dari luar. Itu yang kami alami selama ini," ujar Syamsul. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Frans Krowin)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved